Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #21

21: Pengakuan Cinta Sang Kapten

Pelukan erat di tengah kegelapan hutan itu mendadak terputus oleh suara gemuruh guntur yang membelah langit. Di luar dugaan, mendung kemarau yang pekat akhirnya tumpah menjadi hujan deras yang sangat deras. Air seolah dicurahkan dari langit, membasahi dedaunan hutan dalam sekejap.


"Kita harus berteduh!" seru Wira, suaranya bersaing dengan gemuruh hujan.


Ia memungut obornya yang hampir padam, lalu mendekap bahu Renjana dengan protektif, menuntunnya berlari menerobos derasnya air menuju sebuah gubuk kayu kecil di tepi area latihan militer. Gubuk itu biasa digunakan para perwira untuk menyimpan pelana atau berteduh saat patroli.


Begitu pintu gubuk tertutup, deru angin dan hantaman hujan di atap rumbia terdengar begitu pekat. Di dalam ruangan yang sempit dan remang-remang itu, mereka mencoba menghangatkan diri. Pakaian mereka basah kuyup di beberapa bagian. Wira segera melepas jubah militernya yang basah, menyisakan kemeja katun putih yang kini melekat ketat di tubuh bidangnya karena uap air. Ia membantu Renjana duduk di atas tumpukan jerami kering yang bersih, lalu menyelimuti bahu gadis itu dengan kain flanel kering yang tersisa di sana.


Udara dingin hutan yang menusuk membuat tubuh Renjana sedikit menggigil. Wira berlutut di depannya, mengambil jemari Renjana yang sedingin es ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, lalu meniupnya perlahan untuk mengusir rasa beku.


"Apakah Anda masih kedinginan?" tanya Wira lembut.


Lihat selengkapnya