Kehangatan dari gubuk militer malam sebelumnya seketika menguap begitu fajar menyingsing di langit Batavia. Pagi itu, hawa kemarau kembali membakar dengan pekat. Renjana melangkah menyusuri koridor panjang rumah utama dengan membawa keranjang anyaman kecil, berniat mengembalikan sisa dedaunan herbal yang ia cari di hutan ke ruang obat.
Namun, langkah kaki Renjana mendadak melambat saat melintas di depan ruang kerja sang Jenderal. Pintu jati yang tebal itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah sempit yang mengalirkan suara bariton dingin yang sangat ia kenal, berbaur dengan suara asing beraksen Eropa yang berat.
Renjana menahan napasnya. Naluri aktrisnya mendadak memperingatkannya akan sesuatu yang berbahaya. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding koridor yang sepi, menguping dalam senyap.
"Semua kapal dagang rahasia dari Amerika sudah membuang sauh di teluk terpencil utara, Jenderal," bisik suara asing itu dalam bahasa Melayu pasar yang kaku. "Amunisi, senapan laras panjang terbaru, dan peti-peti bubuk mesiu pesanan Anda sudah siap diturunkan."
"Bagus," jawab Jenderal, suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan kekejaman. "Pastikan semua suplai itu jatuh ke tangan milisi pemberontak di pedalaman sebelum akhir bulan ini."