Sembari berlari sekencang mungkin menuju paviliun barat, pikiran Renjana berputar liar bagai benang kusut. Napasnya tersengal-sengal, bukan hanya karena lelah, melainkan karena sebuah kesadaran mengerikan yang mendadak menghantam kepalanya.
Renjana yang asli...
Ia mencengkeram dadanya yang berdegup kencang. Jika ingatan tentang garis waktu ini benar, Renjana yang asli di tahun 1843 ini mungkin menghilang bukan karena kecelakaan biasa. Gadis itu pasti tidak sengaja mengetahui konspirasi berdarah sang Jenderal, persis seperti yang baru saja dialaminya. Gadis itu mungkin mencoba kabur karena ketakutan, atau... sang Jenderal sendiri yang sengaja menghilangkannya demi membungkam rahasia ini. Dan sekarang, takdir sial itu berputar kembali padanya.
Brak!
Renjana mendorong pintu ruang kerja Wira hingga menabrak dinding. "Wira! Wira, kita dalam bahaya!" serunya dengan sisa napas yang ada.
Namun, ruangan itu sepi. Tiada sosok tegap kaku yang biasanya duduk menyambutnya. Di atas meja kayu, hanya ada tumpukan peta taktis yang rapi dan sebuah pena bulu yang kering. Wira tampaknya sedang dipanggil mendadak ke barak pusat Waterlooplein.