Keesokan pagi, ketakutan Renjana terbukti. Sebelum matahari sempat memecah kegelapan langit Batavia, sang Jenderal tiba-tiba memerintahkan dua pelayan senior untuk menjemputnya di paviliun. Tidak biasanya sang Jenderal peduli pada kegiatan hariannya, namun pagi ini, ia bersikeras agar Renjana mengikuti kelas tenun kain tradisional bersama sekelompok wanita bangsawan di rumah utama.
Renjana tidak punya pilihan selain menurut. Langkah kakinya terasa luar biasa berat melintasi halaman samping. Ketika tatapannya tak sengaja melirik ke arah kandang kuda militer, dadanya seketika mencelos. Kuda hitam gagah milik Wira sudah tidak ada di sana. Barak di sekitarnya pun sepi. Pasukan faksi Weltevreden ternyata sudah berangkat berpatroli sejak subuh buta.
Di ruang tengah yang luas, aroma benang katun dan kayu alat tenun yang khas menyambutnya. Beberapa wanita duduk anggun di depan alat tenun masing-masing, jemari mereka bergerak lincah merajut pola yang rumit. Namun bagi Renjana, ruangan ini terasa tak ubahnya seperti penjara tak kasat mata. Ini adalah taktik ayahnya—sang Jenderal sengaja mengurungnya di kelas ini agar ia tidak bisa keluar dari rumah dan menggagalkan rencana penyergapan maut di lembah kering.
Renjana duduk di depan alat tenunnya dengan tubuh gemetar dan napas yang tertahan. Pikirannya sama sekali tidak berada di ruangan itu. Fokusnya melayang jauh menerobos lebatnya hutan barat, membayangkan punggung tegap Kapten Wira yang sedang memimpin pasukannya masuk ke dalam jebakan maut tanpa tahu apa-apa.