Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #25

25: Kode Penyelamat

Kabut tebal dan dingin sisa malam masih menyelimuti kawasan Weltevreden ketika terompet militer pertama dibunyikan secara sunyi. Jam di dinding markas baru menunjukkan pukul empat subuh buta. Di bawah temaram obor yang bergoyang ditiup angin, Kapten Wira Baskara sudah berdiri tegap di samping kuda hitam gagahnya. Jas militer biru tuanya terkancing rapat, membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Di belakangnya, tiga puluh prajurit faksi Weltevreden berbaris dalam keheningan, memeriksa senapan lontak mereka untuk bersiap memulai patroli besar ke arah hutan barat.


Wira naik ke atas pelana dengan gerakan tangkas seperti biasanya. Pandangan matanya menyapu barisan prajuritnya. Ia merasakan pekatnya tanggung jawab atas nyawa-nyawa muda di belakangnya. "Pasukan, jalan!" perintah Wira rendah, memimpin rombongan membelah kegelapan subuh menembus tanah kering Batavia yang sunyi.


Dua jam berlalu seiring fajar yang mulai menyemburat kemerahan di ufuk timur. Iringan pasukan kini telah memasuki wilayah perbatasan hutan barat, menyusuri jalur setapak yang diapit tebing tanah kering yang curam. Namun, semakin jauh mereka melangkah, insting militer Wira yang tajam mendadak menangkap keanehan. Jalur patroli yang diberikan langsung oleh Jenderal Dwipama ini terasa terlalu sunyi. Lembah kering di depan mereka berbentuk seperti mangkuk raksasa—sebuah posisi taktis yang sangat buruk dan rentan karena musuh bisa menyerang dengan mudah dari atas tebing.


Wira menarik tali kendali, membuat kuda hitamnya berhenti mendadak. Seluruh pasukan di belakangnya ikut berhenti seketika.


"Ada apa, Kapten?" bisik Letnan Pandu, sahabat karibnya, berkuda mendekat.


Wira tidak langsung menjawab. Guna menenangkan debaran janggal di dadanya, ia merogoh rompi dalamnya untuk memeriksa waktu. Ia mengeluarkan jam saku perak kuno miliknya. Namun, saat penutup jam perak itu terbuka dengan bunyi klik yang halus, Wira tertegun.


Ada selembar kertas perkamen kecil yang dilipat sangat rapi, terselip tepat di balik penutup jam.


Wira mengernyitkan dahi. Ia menarik kertas itu keluar. Begitu lipatannya terbuka, matanya yang tajam menangkap deretan simbol aneh yang ditulis terburu-buru dengan tinta hitam. Simbol yang sama sekali tidak akan dimengerti oleh prajurit militer KNIL mana pun di abad ini.

Lihat selengkapnya