Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #26

26: Detak Jam Saku Perak

Dua hari berturut-turut dilewati Renjana bagai berjalan di atas bara api. Setiap detik terasa menyiksa, dipenuhi ketakutan akan datangnya kabar duka dari hutan barat. Namun, pada sore hari kedua, suara riuh terompet militer dan gemuruh derap kaki kuda mendadak memecah keheningan kediaman Jenderal.


Renjana langsung berlari menuju beranda depan, mengabaikan seruan para pelayan. Di sana, di tengah kepulan debu kemarau yang beterbangan, iringan pasukan faksi Weltevreden tampak memasuki gerbang. Dan tepat di barisan paling depan, di atas kuda hitam gagahnya, Kapten Wira Baskara duduk dengan tegap. Jas militernya dipenuhi debu jalanan, wajah tegasnya lelah, namun ia kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.


Kedua mata Renjana seketika berkaca-kaca. Rasa lega yang teramat besar menghantam dadanya hingga ia harus bertumpu pada pilar beranda agar tidak lemas karena terlalu bahagia. Dari atas punggung kuda, Wira menoleh ke arah beranda. Sepasang mata elangnya mengunci pandangan Renjana, melemparkan sebuah tatapan hangat yang sarat akan rasa terima kasih yang mendalam.


Malam harinya, setelah Wira menyelesaikan laporan formal—yang pastinya membuat wajah sang Jenderal pucat pasi karena syok melihat pasukannya kembali hidup-hidup—Wira menemui Renjana secara rahasia di paviliun belakang.


"Bagaimana bisa...?" bisik Renjana begitu mereka berdiri berdua di bawah bayangan pohon kenari.


Lihat selengkapnya