Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #27

27: Bukti Cinta di Batavia 1843

Renjana menatap jam saku perak yang berdetak di genggamannya, lalu mendongak menatap wajah tegas Wira. Didorong oleh rasa bahagia yang membuncah karena pria itu selamat, serta rasa haru yang tak terbendung, Renjana nekat maju satu langkah. Ia berjinjit sedikit, lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut yang cukup lama di pipi kekar Wira.


"Terima kasih sudah kembali dengan selamat, Kapten," bisik Renjana lirih dengan suara bergetar. Setelah melepaskan kecupan itu, Renjana tersenyum manis dengan pipi merona merah. Ia membalikkan badannya, bersiap melangkah pamit untuk kembali masuk ke dalam kamarnya sebelum ada pelayan yang melihat mereka.


Namun, baru saja Renjana mengambil satu langkah, pergelangan tangannya mendadak ditahan oleh cengkeraman lembut namun erat.


Wira menarik tangan Renjana, membalikkan kembali tubuh gadis itu hingga mereka saling berhadapan dalam jarak yang teramat dekat. Sepasang mata elang Wira yang tampak tidak lagi tenang; ada badai emosi, gairah, dan rasa kepemilikan yang teramat liar bergejolak di sana. Pertahanan kaku yang ia bangun mati-matian di gubuk militer saat hujan deras dulu, malam ini runtuh sepenuhnya setelah ia menyadari betapa ia hampir kehilangan gadis ini.


Sebelum Renjana sempat bersuara, Wira menangkup kedua sisi wajah Renjana dengan telapak tangannya yang besar dan hangat. Ia menunduk, lalu menempelkan bilah bibirnya tepat di atas bibir Renjana.


Ciuman itu dalam, sarat akan kerinduan yang menggebu, dan dipenuhi getaran cinta yang melintasi batas waktu dua ratus tahun. Wira mencium Renjana seolah ia sedang mempertaruhkan seluruh sisa umur hidupnya di abad ini, menyalurkan segala rasa takut, rasa syukur, dan cinta mati yang selama ini terkunci rapat di balik seragam militernya. Renjana terenyak, sebelum akhirnya memejamkan mata dan membalas kecupan hangat itu, membiarkan waktu di sekeliling paviliun sepi Batavia malam itu berhenti total.


Ketika tautan bibir mereka perlahan terlepas, napas Wira memburu pendek. Kesadaran akan disiplin ksatrianya mendadak kembali menyentak kepalanya.


Wira melangkah mundur satu kali, melepaskan tangannya dari wajah Renjana dengan gerakan panik yang canggung. Wajah tegasnya mendadak memucat, dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat atas kelancangannya yang baru saja melanggar batas kehormatan wanita bangsawan.

Lihat selengkapnya