Malam kian larut di Weltevreden, membawa keheningan pekat yang hanya dipecah oleh ringkik samar kuda di kejauhan dan ketukan konstan jarum jam saku peraknya. Di ruang kerjanya yang remang-remang, Kapten Wira Baskara sama sekali tidak menyentuh ranjang tidurnya. Di bawah pendar kuning lampu minyak, ia begadang, mencondongkan tubuh tegapnya ke atas sebuah buku jurnal tebal bersampul kulit hitam.
Buku itu bukan berkas militer biasa yang bisa diperiksa oleh Jenderal. Ini adalah jurnal taktik rahasia pribadi yang tidak diketahui oleh siapa pun di kediaman ini. Di dalam halaman-halamannya, tersimpan rahasia militer paling krusial yang Wira kumpulkan selama bertahun-tahun. Faktanya, jauh sebelum Renjana datang membisikkan peringatan tentang jalur patroli maut tempo hari, insting tajam Wira sebagai perwira elite sudah lebih dulu mencium aroma busuk pengkhianatan sang Jenderal. Ia telah mencatat kejanggalan mutasi logistik dan pergerakan dana mencurigakan milik atasannya itu.
Jemari Wira bergerak lincah dan berirama, menorehkan deretan alfabet yang aneh. Karena taruhannya adalah nyawa, Wira tidak menulis dalam bahasa Melayu ataupun Belanda. Ia menuliskan seluruh analisis konspirasinya menggunakan kode sandi kriptografi rahasia yang sempat ia pelajari secara khusus sewaktu menjalani pelatihan militer di Rusia bertahun-tahun lalu. Hanya otaknya sendiri yang memegang kunci untuk membaca baris-baris makar tersebut.
Namun, di sela-sela analisis taktik yang dingin dan berbahaya itu, goresan pena Wira mendadak melambat. Ujung penanya menari lebih lembut saat ia menyisipkan beberapa baris puisi singkat di sudut halaman, menumpahkan badai perasaan yang bergejolak di dadanya: