Malam berikutnya, kegelapan Batavia membungkus sebuah rumah tua kosong yang tersembunyi di pinggiran kawasan Weltevreden. Di dalam ruangan tengah yang remang-remang, Kapten Wira Baskara duduk bersama lima perwira tinggi dari faksi militer yang berseberangan dengan Jenderal Dwipama—ayah Renjana. Atmosfer ruangan terasa begitu tegang. Di atas meja, Wira baru saja mengeluarkan beberapa carik kertas berisi analisis konspirasi yang ia salin dari jurnal berkode Rusia miliknya.
"Jenderal Dwipama sengaja mengacaukan suplai logistik kemarau agar ia memiliki alasan untuk mengambil alih kendali absolut atas keamanan Batavia," ucap Wira, suara baritonnya rendah namun sarat akan ketegasan.
Namun, belum sempat mereka membahas rencana tandingan lebih jauh, insting militer Wira mendadak menangkap keanehan. Suara jangkrik di luar rumah mendadak senyap, digantikan oleh derap langkah kaki bot yang halus namun masif mengepung bangunan.
Brak!
Pintu depan dan jendela-jendela kayu rumah tua itu hancur berkeping-keping dalam sekejap. Belasan orang suruhan Jenderal Dwipama—tentara bayaran bertubuh kekar dengan wajah tertutup kain—merangsek masuk memegang senapan lontak dan pedang sabre yang berkilau tajam.
"Kalian dikepung! Jangan bergerak!" seru pemimpin penyergap.