Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #31

31: Penyiksaan Kapten Wira

Bau anyir darah dan lembapnya dinding batu menyergap indra penciuman di dalam ruang interogasi bawah tanah yang gelap. Kapten Wira Baskara terikat erat pada sebuah kursi kayu berat, kedua tangannya terkunci rantai besi ke belakang. Seragam militer biru tuanya kini telah robek dan bersimbah darah.


Rasa sakit yang luar biasa menghunjam kakinya saat sang penyiksa menarik napas, lalu dengan kejam mencabut kuku kakinya satu per satu menggunakan tang besi. Wira mencengkeram pinggiran kursi, otot-otot di lengan kekarnya menegang hebat, dan garis rahangnya mengetat menahan jeritan. Keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya.


"Terjemahkan isi kode di jurnal ini, Kapten! Atau setiap jengkal tubuhmu akan hancur!" bentak si penyiksa, menghempaskan jurnal hitam Wira ke atas meja kayu.


Wira terengah-engah, darah menetes dari sudut bibirnya yang pecah. Ia mendongak, menatap musuhnya dengan sepasang mata elang yang masih memancarkan kilat keberanian yang mutlak. "Meskipun nyawa saya taruhannya... saya tidak akan sudi... memberikan satu kata pun pada pengkhianat seperti kalian," desis Wira parau.


Kemarahan penyiksa itu memuncak. Tanpa ampun, mereka menyeret kursi Wira ke dekat sebuah bak besar penuh air. Dua orang memegangi rambutnya, lalu menenggelamkan kepala Wira ke dalam bak penuh air tersebut. Wira meronta dalam kekosongan oksigen selama beberapa menit yang menyiksa, sebelum akhirnya kepalanya ditarik paksa ke atas.


Belum sempat ia meraup udara, mereka langsung membungkus kepalanya dengan selembar kain flanel tebal, lalu mengguyurnya dengan seember air dingin. Siksaan waterboarding itu membuat Wira merasa lumpuh; air menyumbat hidung dan tenggorokannya, memicu ilusi tenggelam yang mengerikan di tengah kondisi tangan yang terikat mati ke belakang kursi.

Lihat selengkapnya