Di paviliun belakang, Renjana duduk di tepi teras dengan hati yang cemas. Jarum jam sudah menunjukkan waktu kelas tenun dimulai, namun Wira belum juga muncul. Tidak biasanya pria itu ingkar janji. Kemarin malam Wira sudah berjanji dengan sangat bersungguh-sungguh akan mengantarnya secara pribadi ke rumah utama agar kejadian canggung dengan Jenderal Dwipama tidak terulang lagi.
Saat suara derap langkah bot yang berat terdengar mendekat di koridor paviliun, Renjana seketika berdiri. Rasa senang membuncah di dadanya, mengira Kapten kaku itu akhirnya datang. Ia segera berlari kecil menghampiri asal suara tersebut.
"Wira, kamu lama bang—" kalimat Renjana terhenti total di tenggorokan.
Sosok yang berdiri di depannya bukanlah perwira tegap berwajah hangat yang dikenalnya. Pria itu memiliki perawakan luar biasa besar dengan rambut gimbal kasar yang kotor. Pria asing itu melemparkan sebuah senyuman kecut yang mengerikan. Belum sempat Renjana membalikkan badan untuk melarikan diri atau berteriak, lengan kekar pria gimbal itu sudah lebih dulu menyentak tubuhnya dengan kasar. Sebuah kain putih beraroma menyengat langsung dibekapkan ke hidung dan mulut Renjana. Kesadaran aktris modern itu menguap dalam hitungan detik saat tubuhnya lemas dibius total.
Di ruang bawah tanah yang pengap, Wira masih terengah-engah menahan sisa rasa sakit akibat siksaan air. Rantai besi di tangannya bergemerincing lemah. Tiba-tiba, pintu besi ruangan berderit terbuka lebar.
Dua tentara bayaran melangkah masuk, menyeret tubuh seorang wanita yang setengah sadar. Jantung Wira seketika mencelos. Sepasang mata elangnya melebar kaku penuh guncangan saat mengenali gaun katun dan wajah pucat wanita itu.
"Renjana...!" raung Wira parau.