Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #33

33: Misi Penyelamatan Militer Gabungan

Renjana terbangun dengan kepala yang masih berdenyut pening akibat sisa obat bius. Ketika kelopak matanya terbuka, ia mendapati dirinya terikat kuat pada sebuah tiang kayu kokoh di tengah ruangan luas yang pengap. Debu-debu kemarau beterbangan dalam berkas cahaya matahari yang menerobos celah jendela yang rusak. Ini adalah sebuah gedung tua terbengkalai di pusat kota Batavia.


Napas Renjana seketika tercekat saat matanya melirik ke arah pilar-pilar di sekelilingnya. Belasan peti kayu berisi bubuk mesiu (gunpowder kegs) ditumpuk mengelilingi ruangan, dengan jalur tali sumbu api yang panjang menjulur langsung ke tangan seorang penjaga bertubuh kekar. Satu sulutan korek api saja, maka seluruh gedung tua ini akan meledak berkeping-keping menjadi abu.


Di tengah kengerian itu, pikiran Renjana justru melayang jauh. Kesadaran fatal menghantam benaknya: Inilah saatnya. Di dalam catatan buku sejarah masa depan, hari inilah hari di mana Kapten Wira Baskara ditakdirkan gugur dalam operasi penyelamatan sandera. Karena tidak mau takdir buruk itu merenggut pria yang teramat ia cintai, Renjana mulai menggeser egonya. Ia mencoba memutar otak aktris modernnya, mencari cara di sela-sela ikatan tali untuk bersiap merubah jalannya sejarah.


Sementara itu, berita tentang penyanderaan putri Jenderal Dwipama di tengah kota mulai menyebar seperti api di tengah padang rumput kering. Namun, anehnya, markas militer pusat seolah menutup mata. Jenderal Dwipama dengan sengaja menunda-nunda perintah operasi dan menahan personel militer, mengarang alasan bahwa intelijen belum menemukan lokasi pasti gedung tua tersebut—taktik busuknya agar Renjana lenyap bersama rahasia pengkhianatannya.


Wira, yang akhirnya berhasil meloloskan diri dari ruang penyiksaan bawah tanah dengan tubuh penuh luka dan pakaian dinas yang koyak, langsung menghadap Jenderal Dwipama dengan napas memburu.

Lihat selengkapnya