Suara riuh publik di luar gedung tua mendadak pecah oleh dentuman tembakan senapan lontak yang saling menyahut. Pasukan militer gabungan KNIL yang didesak warga akhirnya merangsek masuk, memicu pertempuran sengit melawan tentara bayaran di dalam area gedung. Asap mesiu putih mengepul tebal, menyumbat udara kemarau yang pengap.
Di tengah kekacauan itu, pintu kayu lantai atas hancur ditendang dari luar. Sosok tegap Kapten Wira Baskara muncul membelah kepulan asap. Dengan luka-luka penyiksaan yang masih basah di tubuhnya dan wajah legam berdarah yang menahan rasa sakit luar biasa, ia bergerak tangkas, menjatuhkan penjaga bertato ular dengan sabetan pedang sabre-nya.
Begitu melihat Renjana yang terikat di tengah ruangan yang dikelilingi peti bubuk mesiu, Wira langsung berlari kencang. Ia menjatuhkan pedangnya, lalu berlutut di depan Renjana. Jemarinya yang gemetar dengan cepat mengurai ikatan tali yang melilit tubuh gadis itu.
"Wira! Pergi dari sini! Ini jebakan!" jerit Renjana histeris, air matanya luruh melihat kondisi Wira yang bersimbah darah. Ia tahu, dalam catatan sejarah asli, inilah detik-detik di mana Wira Baskara seharusnya gugur.
"Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda, Renjana," bisik Wira parau dengan suara baritonnya yang teramat lembut, berhasil melepas ikatan tali terakhir pada tangan Renjana.
Tepat saat Renjana terbebas dan hendak berdiri, insting tajam Wira menangkap kilatan moncong senapan di balik celah jendela atas. Jauh di luar gedung, Jenderal Dwipama diam-diam telah memberikan sinyal rahasia kepada seorang penembak jitu bayarannya: Bunuh Renjana agar rahasia konspirasi ini terkubur selamanya.