Aroma pekat mesiu dan anyir darah mendadak menguap dari indra penciuman Renjana, digantikan oleh wewangian tajam dari hairspray dan parfum mawar yang sangat dikenalinya. Kelopak matanya tersentak terbuka, Renjana langsung terduduk tegak di atas sofa beludru dengan napas yang memburu pendek-pendek, seolah baru saja meraup oksigen setelah tenggelam di laut dalam.
Renjana menatap nanar ke sekeliling. Lampu-lampu LED putih benderang yang mengelilingi cermin besar ruang rias memantulkan wajahnya yang pucat. Tidak ada dinding batu rumah sakit Weltevreden. Tidak ada suara ringkik kuda atau bau tanah kemarau Batavia 1843. Ia kembali. Jiwanya ditarik paksa menembus lorong waktu ratusan tahun, kembali ke tubuhnya di abad kedua puluh satu.
Tangan Renjana yang gemetar refleks meraba dadanya sendiri, lalu beralih ke punggung. Bersih. Tidak ada noda darah. Gaun hijau zamrud berkorset kaku itu telah hilang, berganti dengan kaus kasual modern berwarna putih yang melekat nyaman di tubuhnya. Namun, sisa debaran jantungnya yang liar dan rasa ngilu di dada akibat melihat Wira tertembak masih terasa begitu nyata. Air mata Renjana luruh begitu saja, menetes mengenai punggung tangannya.
Wira... apakah kamu selamat? batin Renjana menangis pilu.
Brak.
Pintu ruang rias mendadak terbuka, memotong badai kepanikan di dalam kepalanya. Sosok Mbak Sari, manajer pribadi Renjana, melangkah masuk dengan langkah tergesa-gesa. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah kantong plastik dan nampan kecil.