Dengan napas memburu dan langkah kaki yang setengah berlari, Renjana mengabaikan panggilan panik Mbak Sari di koridor gedung teater. Tujuan utamanya hanya satu: toko buku akademis yang terletak di seberang jalan raya.
Begitu tangannya berhasil mendorong pintu kaca toko yang dingin, Renjana langsung melangkah cepat ke rak buku sejarah kolonial Nusantara. Dengan jari-jari yang gemetar hebat, ia menarik sebuah buku sejarah tebal Batavia abad ke-19 yang baru saja dicetak ulang.
Renjana membuka bab militer Weltevreden. Dan seketika itu juga, pertahanannya runtuh.
Air mata langsung merebak membasahi pipi Renjana saat matanya terpaku pada sebaris teks baru yang mustahil: Kapten Wira Baskara (1816–1891).
Sejarah telah bergeser! Baris kalimat mengerikan tentang kematian mudanya di gedung tua telah sepenuhnya terhapus. Di sana tertulis dengan tinta emas bahwa Kapten Wira berhasil selamat dari luka tembak kritis, hidup panjang umur, bahkan dianugerahi bintang kehormatan tertinggi serta promosi jabatan menjadi Jenderal Utama atas kesetiaannya pada negara. Sementara itu, nama Jenderal Dwipama tertulis sebagai noda hitam; ia beserta seluruh milisi pengikutnya terbukti melakukan makar, dicopot secara tidak hormat dari kemiliteran, dan dihukum pengasingan seumur hidup ke pulau terpencil.
Renjana terduduk lemas di lantai toko buku, memeluk buku tebal itu ke dadanya sambil terisak hebat. Rasa bahagia, haru, dan rindu yang membuncah bercampur menjadi satu, membuat dadanya sesak.
Mbak Sari yang akhirnya berhasil mengejar Renjana dengan napas terengah-engah, langsung berlutut di sampingnya dengan wajah penuh keheranan. "Astaga, Renjana! Kamu ini kenapa, sih? Tiba-tiba lari ke toko buku cuma buat nangisin riwayat hidup Kapten Wira Baskara? Kamu kesurupan noni Belanda apa gimana?"
"Mbak... sejarahnya sudah berubah," bisik Renjana di sela isak tangisnya.