Batavia tidak pernah terasa seluas dan sesunyi ini bagi Wira Baskara.
Satu bulan telah berlalu sejak luka tembak di punggungnya berangsur pulih, namun luka di dadanya justru kian menganga lebar. Dengan sisa-sisa tenaganya, Wira telah mengerahkan seluruh kemampuan militernya untuk menelusuri setiap sudut kota. Ia memeriksa manifes kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa, mengirim telik sandi ke pemukiman-pemukiman terpencil, hingga melacak kereta kuda yang melintasi gerbang Weltevreden. Namun, Renjana benar-benar lenyap tanpa jejak. Gadis itu seperti embun pagi yang menguap begitu matahari meninggi—meninggalkan Wira sendirian terjebak dalam pusaran waktu yang kejam.
Setiap hari yang dilalui Wira kini berubah menjadi sebuah perjalanan menyiksa, karena seluruh Batavia seolah bertransformasi menjadi sebuah monumen raksasa yang menyimpan bayang-bayang Renjana.
Ketika ia melangkah menyusuri koridor panjang rumah utama, langkah kakinya selalu melambat di depan ruang kerja Jenderal Dwipama. Di sanalah, ia seakan kembali mendengar suara pot porselen yang tersenggol dan derap langkah panik Renjana yang ketakutan setelah menguping konspirasi maut. Keheningan koridor itu kini terasa mencekik, mengingatkannya pada gadis yang berlari mencarinya demi menyelamatkan nyawanya.
Penderitaan itu kian menjadi-jadi saat Wira berjalan melintasi jalur menuju ruang kelas tenun. Lorong luar tempat ia biasa bersandar pada pilar selama berjam-jam kini terasa kosong melompong. Wira menatap pintu kayu yang tertutup itu dengan mata elangnya yang kian redup, merindukan momen ketika pintu itu terbuka dan menampilkan wajah berseri-seri Renjana. Ia merindukan bagaimana mereka berjalan bersisian di bawah pohon kenari, tempat Renjana dengan jahil menceritakan "mantan kekasih masa depan" yang sempat membakar dadanya dengan api cemburu yang konyol.