Captain Wira:1843

Indah Leony Suwarno
Chapter #39

39: Puisi Sang Kapten

Renjana membalik halaman buku sejarah tebal itu dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, seolah lembaran kertas itu adalah kaca rapuh yang bisa hancur kapan saja. Air matanya yang semula menderu kini telah mengering, meninggalkan jejak hangat di pipinya. Di bawah temaram lampu tidur kamar, matanya kembali terpaku pada bait puisi yang ditulis Wira di dalam jurnal berkode miliknya ratusan tahun lalu.


Setiap baitnya terasa seperti usapan lembut jemari Wira di wajah Renjana. Ia perlahan mengalihkan pandangan dari halaman buku, melirik ke arah jam digital yang terletak di atas nakas tepat di dekat kepala kasur.


00:43.


Angka digital berwarna merah itu berkedip lambat secara konstan, menampilkan pergantian detik demi detik yang sunyi. Renjana memeluk buku sejarah itu erat-erat di atas dada, lalu merapalkan sebuah kata di dalam hati dengan keyakinan yang teramat dalam: Cinta Wira Baskara telah melampaui zaman.


Ajaibnya, di tengah kesunyian kamar modern ini, ia mendadak tidak lagi merasa sepi. Hanya dengan menatap kedip detik di jam digital tersebut, Renjana seolah bisa merasakan kembali detak mekanis dari jam saku perak kuno milik Wira yang dulu ia letakkan di genggaman tangannya di bawah pohon kenari Weltevreden. Iramanya sama. Detiknya sama. Waktu boleh saja memisahkan tubuh mereka sejauh dua abad, namun getaran cinta yang ia titipkan pada garis waktu seakan menembus dimensi ruang, hadir mendekapnya malam ini.


Perlahan, rasa lelah yang luar biasa mulai menggelayuti kelopak mata Renjana. Sebelum kesadarannya benar-benar jatuh tertidur, ia menyatukan kedua tangan di atas dada, mengirimkan sebuah doa dan harapan tulus kepada semesta.

Lihat selengkapnya