Tahun 1891, senja di Batavia turun dengan warna jingga keemasan yang sendu. Di teras rumah kolonialnya yang teduh di Weltevreden, seorang pria tua duduk di atas kursi goyang kayu jati. Sosok itu adalah Jenderal Utama Wira Baskara. Usianya telah menyentuh angka tujuh puluh lima tahun. Gurat-gurat lelah dari penghabisan sisa usianya di dunia tercetak jelas di hampir seluruh wajahnya yang menua, namun sisa-sisa garis ketampanan tegasnya yang legendaris masih tertinggal di sana.
Rambutnya kini telah memutih sepenuhnya, menyisakan sangat sedikit helai hitam di balik peci militernya. Tangan besarnya yang dulu sanggup mengayunkan pedang sabre dengan tangkas, kini tampak kasar dengan kulit yang mengendur dan dipenuhi urat-urat tua. Di atas meja marmer di sampingnya, secangkir teh melati hangat masih mengepulkan aroma harum yang menenangkan batinnya yang sepi selama empat puluh delapan tahun terakhir.
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Wira tua membuka lembaran kertas yang sudah menguning dan rapuh. Itu adalah surat-surat dari Renjana—surat yang ia temukan di dalam tasnya puluhan tahun lalu. Setiap hari tanpa absen, membaca ulang tulisan tangan gadis masa depannya adalah satu-satunya pil penawar rindu yang membuatnya sanggup bertahan menjalani kehidupan yang sunyi ini tanpa pernah melirik wanita lain.
Mata tuanya yang kian rabun perlahan membaca bait terakhir dari lembar surat yang paling ia jaga. Di sana, tinta hitam Renjana tertulis dengan sangat indah:
“...di suatu nanti, di kehidupan yang lain, tolong cari aku lagi, dan cintai aku kembali."