Caraku Menjodohkan Ortu

Aerina No 7
Chapter #1

Chapter 1 - Mengapa?

"Hei, ibu."



GYUUT!



Tangan mungil milik seorang anak kecil terangkat, menarik lemah ujung gaun seorang wanita yang ia panggil dengan suffiks "Ibu".


Kepala berwarna pirang keemasan itu menengadah, membiarkan helaiannya tergerai bak ombak yang menyapu punggung.



"Kenapa kamu jarang tersenyum?"



Yura Honoria de Vigilante, nama dari anak kecil tersebut.


Dengan penuh keingintahuan yang terpampang nyata pada wajah polosnya itu, dia bertanya demikian kepada ibunya, Fernelia de Vigilante.



"…."



Waktu itu, Yura Honoria tidak mengetahuinya.



"Ah, karena … yah."



Alasan mengapa Ibunya, Fernelia, senantiasa memandang kosong segala sesuatu—kecuali dirinya— yang berkaitan dengan rumah ini.



"Terkecuali dirimu, tidak ada yang patut aku senyumi di sini."



Fernelia memalingkan wajah.


Dia memalingkan paras bermimik muka masam itu dari putri semata wayangnya, Yura, yang terdiam dengan raut terdohok.



"Semuanya sangat menyiksa untukku. Sangat," pungkas Fernelia, yang berhasil membuat Yura kecil benar-benar syok.



Benar.


Waktu itu pula, Yura pun tidak tahu.



"Hei, Ayah."



GYUTT~!



Menarik jari kelingking sang ayah, Halsien Vagary de Vigilante, yang pas sekali di genggaman tangan mungilnya, Yura berujar.



"Aku ingin mengetahui sesuatu."



Saling bertukar pandang dengan pria yang mengenakan penutup pada mata kirinya, Yura menunjukkan ekspresi penuh harapan.


Alasan mengapa ayahnya merasa bodo amat dengan segala aktivitas di rumah ini—kecuali aktivitasnya—Yura ingin mengetahuinya.



"Kenapa kamu terlihat jarang menghabiskan waktu bersama Ibu?"



"…."



Melihat tidak adanya reaksi signifikan dari sang ayah, Yura kecil pun menambahkan, "Padahal, orang tua temanku tidak seperti itu?"



"…."



"Mereka saling bercengkerama satu sama lain. Bahkan yang lebih serunya lagi, mereka mengajak temanku menghabiskan waktu bersama pada waktu luang."



"Yah, aku hanya cukup memperhatikanmu. Sedangkan yang lain? Itu tidak terlalu penting."



Hasil dari sekian banyaknya Yura memaparkan keinginantahuannya adalah … jawaban yang cukup mengejutkan.


Seperti ibunya waktu ia tanyakan pertanyaan yang sama, ayahnya pula, sekarang memberikan reaksi yang kurang lebih serupa.



"Hal itu benar-benar, sungguh merepotkan sekali."



Dia, Ayahnya Yura, Halsien, lekas memalingkan mukanya dari sang darah dagingnya sendiri ini, … yang kini mematung, diam seribu bahasa.



"Yura."



Waktu itu, Yura tidak tahu. 


Sungguh, Yura tidak mengetahui apa-apa.



"Apa yang kamu lakukan? Ayo kita pergi."



Enggan langsung menyahuti panggilan sang ayah, Yura masih berdiam di tempat yang sama, kemudian menundukkan kepala.



"Yura?"



TES!



Bersamaan dengan langkah kaki yang mulai terdengar cukup tergesa-gesa untuk menghampirinya kembali, air mata Yura jatuh menetes.


Anak itu menangis tanpa suara.


Sambil meremas rok gaunnya dengan tangan yang gemetaran, Yura mulai memikirkan sesuatu.


Lihat selengkapnya