Gasp!
Terperanjat, bayi kecil yang tampaknya terkejut sewaktu tubuhnya dicelupkan ke bak air hangat, menunjukkan ekspresi syok dengan sangat.
Nafasnya sempat tercekat, dan mata merah bulatnya terbelalak menatap langit-langit ruangan dengan alis yang mengerut serius.
"Tidak apa-apa, sayang, … tidak apa-apa."
Apa yang membuat bayi itu terkejut sampai-sampai nafasnya menghembus naik-turun dengan cepat?
Apakah karena tubuh mungilnya itu belum terbiasa dengan hal-hal di dunia baru ini, termasuk di antaranya membiarkan kulit putih lembut bersemu merahnya itu dibasahi oleh air?
Atau … apa?
"Mandi sebentar ya, sayang? Supaya tubuhmu jadi terasa lebih segar nanti."
"Huk! Nghukk!"
Tidak. Sebenarnya, bukan karena itu.
Alasan mengapa si bayi cantik berambut pirang dan bermanik mata merah menyala yang baru berumur seminggu ini, perlahan-lahan mulai mengerutkan keningnya adalah karena satu hal lain.
Suatu hal yang kedengarannya sudah pasti akan seperti di luar akal sehat.
"Ngg—ngaa! Nguaaa! Nguaa!"
Ya.
Bayi tersebut mulai menangis.
"Eh! Shu—shussh! I-ini akan sebentar kok!"
Dia menangis dengan nada yang menyedihkan, sembari menggeliat lemah di pangkuan tangan ramping seorang wanita muda yang tampak gelagapan.
Pada pangkuan wanita muda yang seperti belum memiliki banyak pengalaman, untuk mengurusi bayi sepertinya.
"Tidak apa-apa! K-kamu akan baik-baik saja! Tenanglah."
"Nguaa! Nghua! Uwaa!"
Di tangan wanita berambut pirang panjang menjuntai yang diikat sekenanya, dengan sepasang bongkahan permata hijau zamrud yang bergetar.
"Nguaa! Nguaa!"
Wanita yang tidak lain dan tidak bukan ialah ….
"Shu—shu—shussh, sayang! Hei, sayang~ tidak apa-apa. Ini Ibu."
… Ibunya.
"Nguuu …. Uuu, Uuuk~"
Ibunya yang cantik, yang pertama sekaligus terakhir ia lihat, ….
"Ya, benar. Ada Ibu di sini."
… Sesudah dan sebelum bayi tersebut berhasil melakukan regresi.
***
DRARAK! DRARAK!
Suara terbakarnya kayu kering sebagai bahan baku api unggun di tengah hutan belantara telah memecah keheningan.
Keheningan satu malam hari ini, yang anehnya terasa begitu panjang tuk dilalui dibandingkan dengan hari-hari yang sudah lewat.
"Ibu."
"…."
"Ayo kita pergi."
Panggilan lemah dari anak gadis yang seperti duplikatnya tak disahut, seorang wanita paruh baya yang memeluk lututnya sambil membelakangi api unggun ini masih sibuk.
"Kita harus segera memadamkan api ini, dan lekas pergi ke Istana Kekaisaran. Di sana adalah benteng keamanan terakhir yang Ayah percaya."