Caraku Menjodohkan Ortu

Aerina No 7
Chapter #3

Chapter 3 - Isi Hati

"…."



Fernelia diam seribu bahasa.


Seraya merapatkan bibirnya kuat-kuat, ia hanya memandang kosong wajah mungil anak bayinya yang lelap dibuai oleh mimpi, … sambil memikirkan sesuatu yang tadi tak sengaja ia dengar saat berpura-pura tertidur.



"Aku harus bekerja lebih keras lagi", ungkapan yang Fernelia dengar langsung, dari mulut pria yang menikah dengannya atas dasar hubungan politik ini.


Dari si pria irit bicara dan memiliki sedikit ekspresi pada wajahnya yang kedapatan selalu terlihat kaku, yang di mana bau amis di tubuhnya itu sampai tercium menusuk hidung.



"Dia itu, … mau bekerja sampai seberapa kerasnya?"



Fernelia melirih demikian, seraya mengusap pelan dan penuh sayang terhadap perut gembul si bayi perempuannya itu.


Pikirannya melanglang buana ke ingatan pada hari-hari sebelumnya yang Fernelia kenang dengan sangat, sampai-sampai diketahuinya secara mudah karena sudah berada dalam luar kepala.



Pria itu, suaminya, Halsien, selalu pergi dari rumah sedini hari mungkin, dan pulang pada waktu malam dengan kondisi kotor lagi berantakan.


Entah apa yang dikerjakannya di luar sana, yang jelas, … dia selalu pergi dengan rapi, namun, kembali ke rumah dengan badan kotor, baju compang-camping, serta berbau darah.


Sama persis seperti waktu barusan.



Fernelia juga hafal betul, hal pertama yang dilakukan Halsien segera setelah menginjakkan kaki melewati pintu kepulangan, … sudah seperti menjadi rutinitas.


Yakni, melihat diam-diam dirinya yang berpura-pura tertidur, sambil kembali bergumam "Aku akan bekerja lebih keras lagi".


Lagi dan lagi.


Bahkan semenjak bayinya, bayi mereka, masih belum dibuat, apalagi dilahirkan.



Merasakan perhatian ekstra dari suaminya yang terlihat pendiam, tapi diam-diam selalu memperhatikan tanpa ingin diketahui ini, Fernelia tiba-tiba merasa minder.


Dia yang gelarnya bisa saja membuat status milik suaminya menjadi merosot ke dalam jurang kehancuran itu, … apakah pantas untuk dicintai?



GRRRT!



Fernelia meremas sprei ranjang dengan tangan yang tadinya mengusap perut bayi Yura, secara kuat-kuat.


Matanya terasa memanas.


Dengan hati yang terasa bergetar, Fernelia bergumam kecil.



"Aku bukanlah orang yang pantas untuk kamu cintai."



Ibu muda yang baru berusia sembilan belas tahun itu memejamkan mata.


Berusaha agar mata hijaunya yang telah berkaca-kaca, supaya tidak jadi meneteskan air mata.



"Aku adalah seorang Putri rendahan, yang paling dibenci di seluruh kerajaanku."



Mungkin, karena tadinya ia berniat untuk memejamkan mata sejenak, Fernelia pun tidak menyangka … bahwa dirinya sekarang akan tertidur sungguhan.


Sampai-sampai, ibu muda tersebut pun tentu tidak menyadari.



Ya, dia tidak akan menyadarinya.


Bahwa bayi perempuan yang berada di sampingnya, kepada dirinya, ia ….



"…."



… Mengarahkan manik mata merah yang serupa seperti ayahnya, tenggelam dengan luapan air mata.



"Uu …."



Kening bayi Yura berkerut.


Menekuk dengan ekspresi menyakitkan, bersamaan dengan semakin banyaknya buliran-buliran air mata yang turun membasahi pipi.



"Uwaanh …. Uwanhghh …."



Yura menangis.


Menangis dengan lemah.


Satu-satunya solusi dari dirinya yang ingin menangis sekarang, tetapi tidak ingin membangunkan sang ibu.



"Uwaah … uwaa …."



Tangan dan kakinya yang masih belum cukup bertenaga untuk mengayun dengan kuat itu, menggeliat pelan-pelan.


Lihat selengkapnya