***
ROARRH~!
“…!”
Angin berembus kencang, dan suara makhluk buas yang mengaum bagaikan gunturnya halilintar, membuat suasana semakin mencekam.
Padahal, dirinya sendiri saja merasa takut teramat sangat untuk sekarang.
Akan tetapi, dengan soknya, … Yura Honoria, gadis berusia lima belas tahun itu, berdiri di depan sang ibu sambil memasang posisi berjaga.
“…!”
Ayahnya yang telah mengorbankan nyawa demi melindungi mereka berdua, telah mengamanatkan kepada Yura.
Apa pun yang terjadi, dia harus membawa ibunya pergi dengan selamat menuju benteng pertahanan istana kekaisaran, dan mencari perlindungan dari pihak yang berwenang.
Benar. Dia tak boleh menyerah hanya sampai sini.
Dia tak boleh membuat perjuangan ayahnya, menjadi sia-sia begitu saja.
Karena itu …! Apa pun yang akan datang, Yura harus menghalaunya demi sang ib—!
—WRAAA!
“…!?”
Tanah bergetar, dan suara gemuruh memekakkan telinga.
Geraman-geraman yang keluar dari setiap—bukan manusia, tapi, bukan juga jenis hewan—mayat hidup, Mytes, terdengar bercampur riuh menciutkan nyali kedua perempuan penyandang nama Vigilante itu.
“Y-ya Tuhan,” ibunya Yura, Fernelia, membekap mulutnya dengan air mata yang mulai berjatuhan.
“A-apa yang harus kita lakukan?”
Untuk kali ini, Yura setuju dengan sikap pesimistis dari sang ibu.
Mau sekencang apa pun mereka berusaha melarikan diri untuk sekarang, itu akan menjadi hal sia-sia.
Dikarenakan, para Mytes yang semakin tambah aktif bergerak dikala malam telah tiba, … sudah berlarian secepat deru ombak menuju mereka berdua.
Ditambah lagi, di antara para monster yang haus akan darah dan daging manusia hidup itu, ada satu Mytes yang mempunyai ciri fisik mencolok, nan mudah dikenali.
Yakni, … orang yang telah menyuruh mereka berdua supaya cepat pergi selagi ia mengorbankan diri, ….
“… H-h—h-ha.”
… Ayahnya sendiri.
“Roarrhh~!”
***
“Gasp!”
Bayi Yura sudah menginjak usia satu bulan sekarang, lagi-lagi terbangun dengan terperanjat.
Dia selalu saja terbangun dengan cara seperti itu, jika dirinya memimpikan kehidupan di masa lalu.
Ini membuatnya kesulitan menjalani hidup yang baru, karena kerap dihantui oleh mimpi buruk yang telah ia lewati, dan kemungkinan besar akan ia hadapi di masa mendatang.
“Uhk! Unghh~!” Yura merengek kecil.
Dada kecilnya naik turun, mencoba mencari udara untuk meringankan nafasnya yang terasa sesak.
Keningnya mengerut sendu, dan manik mata merah bulat miliknya menyipit ditenggelamkan oleh air mata.
“U-uwenggh~!”