Sialan!
Detik itu juga, alarm di dalam kepalaku berbunyi bising. Ada sesuatu yang bergeser di dalam dadaku, sebuah letupan rasa yang belum pernah kurasikan sebelumnya. Itu membuatku ketakutan setengah mati. Ini hanyalah pertemuan singkat di LDKS, sebuah interaksi kasual yang tak sengaja.
“Mau ke mana? Enggak shalat zuhur dulu?”
Pertanyaan itu menghentikan langkahku. Padahal, aku sudah berniat menyelinap ke barak penginapan untuk tidur. Aku menoleh dan mendapati teman sekelasku, Risa. Gadis berkulit putih, berhidung kecil mancung, dengan bibir yang selalu tampak merona alami. Aku berusaha mengabaikannya, tetapi gadis ini berbahaya. Sesuatu yang begitu indah dan tampak suci seperti dia adalah perangkap paling mematikan untuk orang sekacau aku.
“Ngapain? aku lelah, mau istirahat. Lagian buat apa buang-buang waktu buat Tuhan yang bahkan nggak pernah dengerin doaku?”
Jawabanku ketus dan aku bisa melihat pupil mata Risa melebar. Wajah cantiknya langsung menunjukkan ekspresi tidak percaya, ekspresi memelas khas perempuan yang biasanya sukses memancing rasa iba kebanyakan pria. Namun, aku bukan bukan pria-pria bodoh itu. Aku terlatih seperti tentara di medan perang. Aku belajar banyak dari pengalaman, tepatnya ibuku. Aku gagal melindungi ibuku sehingga dia pergi. Lalu bagaimana bisa aku menjatuhkan diriku pada perasaan bodoh yang takkan pernah bisa kulindungi ini. Memikirkannya saja sudah membuatku muak.
“Tapi, shalat itu bukan hanya soal doa. Itu wujud cinta kita kepada Sang Pencipta, dan—”
“Berisik,” potongku cepat. “Kalau mau ceramah sekalian saja di mimbar. Menyebalkan sekali.”
Bagus, dengan omongan kasar itu Risa pasti bakal membenciku. Tujuan hidupku adalah balas dendam. Aku tidak percaya komitmen, ketulusan, dan menolak jadi korban dari ilusi bodoh bernama cinta. Sebelum perasaan sialan ini tumbuh menjadi obsesi yang tidak bisa kukendalikan, aku berbalik dan melangkah pergi. Aku harus menjauhinya sejauh mungkin. Karena sedetik saja aku membiarkan diriku menatap Risa, aku tahu aku akan kalah dan aku membenci itu.
Aku terus berjalan sampai sebuah teriakan menghentikanku. Di gazebo dekat aula, aku melihat tiga cowok sedang asyik nongkrong, diiringi petikan gitar. Aku berusaha mengabaikan panggilan mereka, tetapi salah satu dari mereka langsung menghampiri dan merangkul pundakku dengan sok akrab.
“Woi Rav! Buru-buru amat, Bro? Mending gabung sini, kita jamming bareng!” ajak cowok itu.
Aku menghela napas berat. Badanku rasanya mau rontok karena rangkaian acara LDKS dari pagi, dan aku cuma ingin rebahan. Namun, aku tidak bisa egois. Aku sudah susah payah membangun topeng sosial ini dan memilih lingkaran pertemanan terbaik di angkatan. Mereka adalah tiga cowok paling populer di sekolah: Ekhsan, cowok tampan yang lahir dari keluarga kaya dan menjadi incaran semenjak MPLS, Dodit, cowok super supel yang saking luas pergaulannya, dia bahkan kenal dengan anak-anak geng motor yang agak nekat; dan terakhir Yogi, cowok dengan suara emas yang gampang banget bikin cewek-cewek baper nyanyiannya.
“Dua lagu aja, ya. Habis itu gue balik ke barak,” kataku akhirnya mengikuti Dodit.
Begitu aku duduk, gitar di tangan Ekhsan kembali berdentang. Dia memainkan lagu dari yang liriknya lumayan familier di telingaku. Dodit langsung menepuk-nepuk meja kayu, bertindak sebagai perkusi dadakan untuk meramaikan suasana. Yogi mulai bernyanyi dengan suaranya yang candu, disusul oleh yang lain. Aku hanya bisa menyelaraskan diri dengan Dodit dan Yogi, memasang senyum palsu di wajahku.
Begitu lagu selesai, Ekhsan meletakkan gitarnya. Aku langsung berdiri dengan maksud ingin kabur ke barak, tetapi ucapan Dodit mendadak menahan langkahku.
“Eh, jadi besok lo bener-bener nembak Risa, San?” tanya Dodit.
Aku yang semula sudah siap melangkah, perlahan kembali duduk. Rasa penasaran sialan ini mendadak mengalahkan rasa kantukku.
“Yoi, jelas dong. Gue udah siapin semuanya. Lagian Lia juga udah janji bakal bantuin gue ntar pas penutupan,” ujar Ekhsan dengan percaya diri.
“Ngomong-ngomong… katanya tadi ada yang ngebet banget mau tidur, Vel?” Yogi tiba-tiba melontarkan sindiran tajam ke arahku.
“E-eh, iya ini mau tidur kok. Tapi… kayaknya obrolan kalian agak sayang buat dilewatin,” jawabku sambil meringis canggung, berusaha terlihat santai.
“Lagian lo sih, diajak nongkrong alasan mulu. Padahal kalu nongkrong selalu ada Ekhsan yang mentraktir kita. Sesekali dong ikut kita nongkrong di kafe, main billiard, atau berenang. Tongkrongan kita harus apa ….” Yogi berteriak.
“Harus gaul dong!” ujar Dodit dan Ekhsab bersamaan.
“Gimana mau ikut, kalian tahu sendiri gue harus jagain adek gua. Mana sempat gue nongkrong bareng kaum gabut kayak kalian,” ledekku, menggunakan alasan klasik untuk menutupi urusan rumahku yang berantakan.
“Wah, songong nih anak. Kita ini circle paling hits di angkatan tahu. Apa mau lo kita kick dari grup?” ancam Dodit bercanda.
“Silakan aja kalau berani. Tapi jangan harap lo semua bakal dapet salinan tugas, kelompok kerja, atau lebih buruknya… contekan dari gue pas ujian. Cobain aja kalau mau,” balasku santai.