Aku mengembuskan napas berat, mencoba mengusir bayangan senyum Risa dari kepalaku saat bus sekolah akhirnya datang. Sebelum kami diperbolehkan masuk ke dalam bus, seluruh siswa kelas sepuluh dikumpulkan dan dibariskan di lapangan tengah camp. Suasana mendadak senyap saat Kak Auliyah—yang baru saja diumumkan sebagai Ketua OSIS baru—berdiri di depan bersama Kepala Sekolah. Ia membawa selembar papan klip berisi catatan hasil penilaian mentor selama LDKS.
"Perhatian semuanya," suara Kak Auliyah terdengar lantang melalui pengeras suara portabel, memotong riuh rendah obrolan para murid. "Sesuai mandat dari pembina dan Kak Gilang, struktur inti OSIS periode ini harus diumumkan sebelum kita melakukan perjalanan pulang ke sekolah. Pertama, untuk posisi Bendahara Mandat akan diisi oleh Dimas dari kelas sebelas dan April dari kelas sepuluh. Lalu untuk posisi Sekretaris Umum adalah Dwi dari kelas sebelas dan Risa dari kelas sepuluh."
Mendengar nama Risa disebut, beberapa siswi langsung bertepuk tangan riuh. Risa hanya menunduk dengan senyum santunnya.
“Lalu untuk posisi Wakil Ketua OSIS..." Kak Auliyah membalik halaman catatannya. Matanya memicing, memindai seisi lapangan hingga pandangannya terkunci tepat padaku yang berdiri di barisan paling belakang. "...Ravel. Kamu wakilku."
"Hah?!"
Bukan hanya aku yang berteriak spontan. Semua orang langsung menoleh ke arahku. Bahkan Ekhsan, Dodit, dan Yogi yang berada di barisan depan kompak memutar tubuh seolah-olah kuping mereka baru saja salah mendengar.
"Tunggu, Kak! Ini salah cetak atau gimana?" protesku langsung maju satu langkah dari barisan. "Nilai kedisiplinan saya hancur! Saya sering dihukum push-up, dan saya sama sekali tidak berminat ikut organisasi!"
"Ini bukan salah cetak, Ravel," sahut Kak Auliyah tenang, namun tatapan matanya begitu mengintimidasi. "Formulir penilaianmu ada di tanganku. Kamu memang malas, tapi nilai ujian strategi kepemimpinan dan pidatomu semalam mendapat poin sempurna. Nilai tertinggalmu cuma di fisik karena kamu hobi mengeluh. OSIS butuh orang yang bisa berpikir taktis, bukan cuma orang yang jago baris-berbaris. Ini keputusan mutlak dari hasil rapat tim penilai LDKS dan Pembina."
Aku mengepalkan tangan, rahangku mengeras.
Menjadi Wakil Ketua OSIS artinya aku harus sering berada di ruang yang sama dengan Risa, sang Sekretaris. Sialan. Tembok yang sudah susah payah kubangun bisa runtuh kapan saja kalau aku terus-menerus dipaksa melihat wajahnya.
Aku melirik ke arah Ekhsan. Cowok itu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara syok, kecewa karena baru saja ditolak Risa, dan mungkin sedikit tersinggung karena posisi mentereng itu justru jatuh ke tanganku yang terkesan tidak niat sama sekali.
Sebelum suasana makin canggung, Ekhsan tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Kak Auliyah!" panggil Ekhsan, memecah ketegangan. "Kalau posisi inti sudah penuh, tolong masukkan gue ke Sekbid Humas atau Bela Negara. Gue tetap mau gabung OSIS periode ini."
Aku mengernyitkan dahi.
Ekhsan baru saja ditolak mentah-mentah oleh Risa di depan umum, dan sekarang dia justru mengajukan diri masuk ke organisasi yang sama dengan perempuan yang menolaknya?
“Tenang saja Ekhsan, namamu memang sudah dialokasikan di Sekbid itu. Aku harap kamu bisa serius ketika mulai bertugas nanti,” jawab Kak Auliyah.
"Gue serius, Kak," jawab Ekhsan mantap, meski sudut matanya sempat melirik ke arah Risa yang kini menunduk canggung. "Gue bukan tipe cowok yang gampang menyerah cuma karena satu kegagalan. Lagian, gue rasa gue punya kemampuan yang berguna buat OSIS."
Dodit dan Yogi langsung menepuk-nepuk bahu Ekhsan, bersiul bangga atas keberanian sahabat mereka. Sementara itu, Irul tiba-tiba menyenggol lenganku dengan sikutnya.
"Sepertinya OSIS tahun ini bakal seru. Iya enggak, Rav?" bisik Irul sembari menyeringai aneh.
Namun, sebelum aku sempat membalas, Kak Auliyah kembali membaca papan klipnya dan menyebutkan nama Irul untuk memimpin Ketua Ketaqwaan atau Kerohanian.
Memang sepertinya tahun ini akan berjalan sangat merepotkan. Baru kali ini anak kelas sepuluh langsung ditunjuk menjadi ketua bidang. Memang tidak salah sahabat nonongku ini, si pemenang lomba tartil sekabupaten.
Puas mengejek Irul di dalam hati, aku akhirnya mendesah lelah. Masa jabatan satu tahun ke depan mendadak terasa seperti neraka yang siap membakar seluruh benteng pertahanan yang kubuat untuk melindungi hatiku.
***
Hari pertama kembali ke sekolah setelah LDKS terasa seperti perpindahan dari satu medan perang ke medan perang lainnya. Setidaknya di sini tidak ada lumpur dan kolam ikan. Yang ada hanyalah tumpukan pelajaran dan bisik-bisik koridor yang mendadak senyap setiap kali Ekhsan berjalan melintas. Meski ditolak mentah-mentah kemarin, kepopuleran Ekhsan tidak meredup. Malahan, pesonanya makin bersinar karena beberapa gadis mulai bergerak, mencoba mengambil kesempatan untuk mengobati hatinya yang patah.
Siang itu, di bawah rindangnya pohon talok dekat area parkir, circle kami berkumpul. Namun, suasananya jauh dari kata asyik. Ekhsan bersandar pada motor sport-nya sembari menarik penutup hoodie-nya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan harga dirinya yang terluka.