Bel jam terakhir berbunyi nyaring, memicu sorak-sorai tertahan dari penjuru kelas X-1. Namun bagiku, bunyi itu tidak berbeda dengan lonceng kematian. Saat murid lain berbondong-bondong mengemas tas untuk pulang ke rumah, aku harus melangkah berlawanan arah menuju ruang rapat OSIS.
"Sial, waktu santai bareng Nanda terpaksa kepotong lagi," gumamku lesu sembari menyampirkan tas ransel di sebelah pundak.
Tiba-tiba, sebuah tepukan keras mendarat di bahuku, cukup kuat untuk membuat tubuhku hampir terjatuh ke depan.
"Hoi!" protesku ketus sembari berbalik.
"Lagian bengong aja, Wakil Ketua OSIS kita. Lagi mikirin Risa, ya? Apalagi sekarang posisi duduk kalian dekat banget," ejek Irul yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingku dengan cengiran tanpa dosa.
"Haha... lucu sekali, Rul. Terus gimana kabarnya Mega?" balasku telak, menaikkan sebelah alis.
Raut wajah Irul yang tadinya cerah mendadak berubah mendung. "Itu... gue udah kirim pesan teks balasan kayak yang lo saranin kemarin. Tapi parah banget, dia ternyata cuma jadiin gue pelarian selama tiga bulan ini."
"Padahal lo udah ngarep bisa jalan bareng, terus mungkin... nge-date romantis?" Aku menggoda Irul dengan membuat pose memeluk diri sendiri secara dramatis.
"Astagfirullah! Apaan sih, Rav! Gue enggak pernah mikir sejauh itu!" Wajah Irul memerah sempurna.
"Tuntuan saja. Mana mungkin seorang juara Tartil tingkat kabupaten semasa SMP pacaran unyu-unyu," ujarku sambil terkekeh sinis.
"Oi, jangan bawa-bawa prestasi masa lalu, ya! Sudah, mending kita cepat ke ruang rapat, atau Kak Auliyah bakal ngamuk dan ninggalin kita."
Sebelum aku sempat membalas, Irul sudah menarik lengan almamaterku kuat-kuat, memaksaku ikut berjalan cepat membelah koridor sekolah bersamanya.
Rapat perdana pengurus OSIS baru di ruang rapat utama berlangsung kaku. Kak Auliyah memimpin di depan dengan ketukan pulpennya yang ritmis pada papan klip, sementara para anggota baru—termasuk Ekhsan yang duduk di barisan Sekbid Humas—menyimak dengan serius. Aku duduk di sebelah kanan Kak Auliyah selaku Wakil Ketua, menatap kosong ke arah papan tulis, mencoba berpura-pura menjadi patung.
"Agenda terdekat kita adalah upacara bendera hari Senin depan," suara Kak Auliyah memecah keheningan ruangan. "Ini adalah upacara pertama setelah LDKS dan pelantikan pengurus baru. Pihak sekolah meminta petugasnya diambil penuh dari pengurus OSIS inti kelas sepuluh untuk simulasi performa."
Aku menguap pelan, merasa urusan ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Paling-paling aku hanya perlu berdiri tegap di barisan pengurus dengan mengenakan almamater biru tua ini.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang rapat diketuk dari luar. Sosok pria berambut rapi dengan kacamata dan seragam ASN yang rapi melangkah masuk, diikuti oleh Pak Efendi, Kepala Sekolah kami yang berwibawa. Pria yang masuk pertama adalah Pak Samsul, Pembina OSIS sekaligus guru olahraga yang terkenal disiplin.
Begitu mereka masuk, suasana ruangan mendadak senyap. Beberapa murid spontan menegakkan punggung dan merapikan posisi duduk mereka.
"Sore, anak-anak. Lanjutkan rapatnya," ujar Pak Efendi dengan suara beratnya yang penuh karisma. Beliau berjalan mendekat ke meja depan, matanya menyapu seisi ruangan hingga pandangannya terkunci tepat pada wajahku.
"Ravel," panggil Pak Efendi.
"Iya, Pak?" jawabku kaku, mendadak punya firasat buruk.
"Hari Senin besok, Bapak minta kamu yang menjadi Pemimpin Upacara."
Kalimat singkat itu terasa seperti bom yang meledak tepat di atas kepalaku.
"Hah? Maaf, Pak. Menjadi pemimpin upacara?" Aku sedikit memajukan tubuh, mencoba mencari alasan kuat untuk menghindar. "Maaf sekali, Pak. Sepulang sekolah saya harus langsung pulang untuk menjemput dan menjaga adik saya di rumah. Jadi, saya tidak punya waktu untuk ikut latihan sore. Terima kasih atas kesempatannya, Pak."
"Ah, begitu rupanya," Pak Efendi mangut-mangut, lalu melirik Pak Samsul dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. "Padahal, murid yang aktif dalam kegiatan taktis sekolah seperti ini biasanya akan diprioritaskan untuk beasiswa prestasi dan nilai rapor organisasi. Tapi apa boleh buat kalau kamu keberatan. Mungkin kuota potongannya bisa dialokasikan ke murid lain."
Ancaman halus mengenai potongan biaya sekolah itu seketika membuatku panik. Mengingat kondisi keuangan rumahku yang kacau karena ulah pria di rumah, aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini.
"Tunggu dulu, Pak!" cegahku cepat. Aku menelan ludah, mengutuki nasib sialku. "Baiklah, saya siap. Tapi sebelum itu... mengapa harus saya, Pak? Bukankah orang lain jauh lebih pantas? Mungkin Ekhsan? Dia memiliki postur tubuh yang tegap dan suara yang sangat lantang. Saya takut mengacaukannya."
Aku melirik ke arah Ekhsan. Pemuda itu tampak mengernyitkan alisnya tajam ke arahku, terlihat sangat tidak terima karena aku mencoba menyeretnya ke dalam tanggung jawab berat ini.
"Ekhsan sudah memiliki tugas lain, dia ditunjuk oleh Pak Samsul sebagai penggerek bendera bersama tim Paskibra kelas sepuluh," potong Pak Efendi tenang, namun nadanya tidak menerima bantahan. "Bapak memilihmu karena kamu punya artikulasi suara yang bagus dan tegas saat simulasi kemarin. Seorang Wakil Ketua OSIS harus berani tampil di depan. Samsul, pastikan bawa semua petugas ke lapangan untuk berlatih sore ini."
Setelah memberikan instruksi mutlak itu, Pak Efendi melenggang pergi dari ruang rapat, meninggalkan Pak Samsul yang langsung mengambil alih. Aku hanya bisa membeku di tempat, menahan rentetan umpatan di dalam dada.
Sialan. Kenapa orang-orang tua di sekolah ini hobi sekali menjebakku ke dalam kesulitan? Seharusnya dulu aku tidak perlu terlalu vokal saat LDKS.