Kelas kosong adalah sebuah anugerah tak ternilai bagi para murid, termasuk diriku. Pada saat free class seperti ini, atmosfer ruangan langsung berubah bebas, memicu kegaduhan instan di setiap sudut. Di bagian belakang, kelompok populer yang dipimpin Ekhsan sedang asyik memetik gitar akustik, menyanyikan lagu-lagu dari Juicy Luicy, Hindia, hingga Bruno Mars yang sedang tren bersahut-sahutan.
Sebagai orang yang tidak terlalu paham selera musik tongkrongan umum, aku memilih menghabiskan waktu dengan tenggelam di depan layar ponsel. Kubuka device-ku dan langsung login ke game MOBA favoritku. Jam kosong adalah berkah, karena jika sudah di rumah, aku harus membatasi diri untuk belajar dan hanya bisa bermain game maksimal tiga jam.
Baru beberapa menit aku fokus melakukan farming di lane, ketenanganku terusik saat Ekhsan tiba-tiba bangkit dan berjalan menghampiri meja Risa.
"Hai muka melon, wajah lo makin putih aja hari ini. Mirip kayak batu gamping," ejek Ekhsan dengan cengiran khasnya. Tangannya bergerak usil, berniat mencubit ujung hidung Risa, namun gadis itu dengan sigap memundurkan tubuhnya.
"Jangan bikin onar, Ekhsan. Daripada menggangguku, lebih baik kamu balik sana, nyanyi lagi!" sahut Risa, menatap Ekhsan dengan raut wajah yang tampak sangat dongkol.
Alih-alih menjauh, Ekhsan malah menyambar gitar dari tangan Dodit lalu dengan santai menduduki sudut meja Risa. Jari-jari panjangnya mulai memetik senar, memainkan intro sebuah lagu romantis yang familier.
"Semenjak pertama, ku jumpa denganmu... ada rasa yang berbeda... Oh, inilah cinta pertama bagi diri ini... uh, oh, oh..."
Ekhsan menyanyi dengan suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu, memicu sorak-sorai riuh dari seisi kelas yang spontan berteriak, "Ciye...!"
Aku yang sedang fokus war mau tidak mau melirik ke arah mereka. Kudapati Risa sedang melipat tangan di dada dengan ekspresi yang luar biasa kecut. Merasa aksi panggungnya tidak mendapat respons yang diinginkan, tingkat keisengan Ekhsan naik ke level berbahaya. Dengan gerakan cepat dan tak terduga, tangannya menarik ujung kain jilbab Risa.
Sret!
Risa terlonjak kaget. Dia langsung meraba kepalanya, dan sedetik kemudian dia menyadari kalau kain jilbab putihnya sudah lolos dan berpindah ke tangan Ekhsan. Beruntung, Risa mengenakan ciput Ninja hitam yang menutup rapat seluruh rambut hingga lehernya. Namun tetap saja, dipermalukan seperti itu di depan kelas membuat wajahnya memerah padam karena syok.
"Ekhsan! Kembalikan! Kembalikan jilbabku!" teriak Risa dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis.
"Kalau lo mau ini... nih, ambil sendiri! Wek!" Ekhsan menjulurkan lidahnya, mengangkat kain jilbab itu tinggi-tinggi ke udara.
Sambil terus memegangi kepala dengan kedua tangannya karena merasa tidak nyaman, Risa berlari menghampiri Ekhsan, mencoba menggapai jilbabnya. Konsentrasiku di dalam game benar-benar pecah berantakan akibat pertunjukan melelahkan yang mirip adegan kejar-kejaran film India ini.
Begitu Risa mendekat, Ekhsan dengan licik melemparkan jilbab itu ke arah Lia di barisan tengah. Risa berbalik mengejarnya, namun Lia tertawa dan melempar kain itu kembali ke anak lain. Keadaan semakin kacau ketika Irul, yang sedari tadi diam, ikut-ikutan menangkap dan melemparkannya lagi.
Kain jilbab putih itu terbang ke sana kemari membelah udara kelas, hingga akhirnya... plak. Jilbab itu mendarat tepat di atas kepalaku yang sedang menunduk.
Seketika, aroma lembut khas bedak bayi langsung meresap ke indra penciumanku. Wangi yang begitu menenangkan, jenis aroma yang entah kenapa selalu bisa membuat pikiranku mendadak beralih fokus.
Aku menurunkan kain itu dari kepalaku. Di seberang sana, Ekhsan tampak bersemangat, melambaikan tangan memberi gestur agar aku melemparkan hijab itu kembali kepadanya. Aku mendesah pelan, lalu mengalihkan pandangan pada Risa. Gadis itu berdiri membeku di tengah kelas, menatapku dengan mata bulat yang sudah berkaca-kaca, tampak sangat terhina dan bersiap untuk menangis.