Atmosfer ruang OSIS Senin pagi ini terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada hari biasanya. Semua orang bergerak cepat, menyisir rambut, merapikan lipatan celana, dan memastikan tidak ada satu pun atribut yang tertinggal. Aku berdiri di depan cermin besar yang berada di sudut ruangan, memasang nomor dada petugas dengan tangan yang mendadak terasa sedingin es. Jantungku berpacu tidak keruan—ini adalah pembuktian perdanaku memimpin upacara di depan ratusan murid dan kepala sekolah.
Di tengah kepanikan batinku, pintu ruang OSIS terbuka. Langkah kakiku mendadak terkunci saat sosok Risa melangkah masuk.
Risa masuk, dan kecantikannya pagi ini bak sosok Artemis, cantik, kuat dan anggun.Aku bisa melihat beberapa pria mencuri-curi pandang menikmati kecantikan dari RIsa. Meski beberapa gadis OSIS yang menjadi petugas hari ini juga memiliki penampilan top tier, Risa jelas berada di level berbeda. Rok abu-abu panjangnya yang rapi, kemeja putih bersaku dua, serta jilbab putih kain yang membentuk lengkungan simetris tanpa cacat di dahinya, benar-benar membuat pesonanya terpancar maksimal.
Saat aku sedang terpaku mengagumi Risa, Irul tiba-tiba menyikut lenganku.
"Ada yang jatuh cinta nih," bisik Irul sembari menyunggingkan senyum menyebalkan.
"Kau pasti bercanda. Apa perlu aku membahas bagaimana tololnya wajahmu itu saat melihat mega. Wahai Mr Jenong. balasku ketus, mencoba mengalihkan perhatian.
Mataku langsung beralih mengikuti pergerakan Ekhsan yang tiba-tiba melompati meja untuk mendatangi Risa.
"Wah, Si Gamping. Apa-apaan hijab lo itu? Aneh banget, wajahmu jadi bulat jelek seperti melon. Muka melon... muka melon..." Ekhsan tertawa terbahak-bahak, mulai menunjukkan sifat usilnya.
"Biarin, wek! Daripada kamu sibuk mengomentari aku, lebih baik bersiap-siap sana. Kau ini apa tidak punya rasa gugup sama sekali?" tanya Risa ketus.
Ekhsan mencoba meraih ujung hijab Risa, tetapi gadis itu dengan sigap menghindar.
"Ekhsan, stop!" Risa berlari menghindar, namun Ekhsan terus berusaha mengejarnya. Mereka bergerak cepat melompati sela-sela meja hingga Risa yang panik tanpa sengaja menabrak tubuhku dengan cukup keras.
"Ma..." Risa menghentikan kata-katanya di udara begitu menyadari siapa yang dia tabrak. Dia langsung membuang muka dengan canggung.
Aku memaksakan sebuah senyuman tipis di dalam hati. Ini adalah sesuatu yang kuinginkan. Benar, seperti ini memang lebih benar, Risa. Abaikan saja aku.
Karena sempat tertahan akibat bertabrakan denganku, Ekhsan berhasil menyusul dan berniat menarik tudung hijab Risa lagi. Namun, sebelum keusilannya melampaui batas, Kak Auliyah datang dan berteriak tegas di ambang pintu.
"Ekhsan, jangan bermain-main! Semua guru sudah berkumpul di podium. Semua petugas upacara segera mengambil posisi di halaman depan!" perintah Kak Auliyah.
Semua orang langsung bubar dan bersiap pada posisi mereka masing-masing. Kak Auliyah yang bertugas sebagai pembawa acara segera menuju mikrofon untuk membuka upacara.
"Perhatian, upacara pengibaran bendera hari Senin akan segera dimulai. Mohon pemimpin barisan menyiapkan barisannya."
Semua ketua kelas yang menjadi pemimpin barisan menyiapkan pasukan mereka dengan lantang. Begitu Kak Auliyah mengumumkan bahwa Pemimpin Upacara memasuki lapangan, aku melangkah maju dengan tegap, menerima laporan dari setiap pemimpin barisan, lalu mengambil alih komando.
Pembina upacara hari ini, Pak Efendi, berjalan tegap naik ke atas podium diikuti oleh dua orang guru pendamping. Aku mengambil napas dalam-dalam, melangkah maju dengan gerakan se-estetik mungkin, lalu berlari kecil menuju depan podium.
"Lapor! Upacara hari Senin siap dilaksanakan!" kataku selantang mungkin, memanfaatkan teknik diafragma.
"Laksanakan!" perintah Pak Efendi berwibawa.
"Siap, laksanakan!"
Aku melakukan hormat, berbalik, dan berlari kecil untuk kembali ke posisiku di tengah lapangan. Namun, entah karena bayangan hari Minggu kemarin mendadak melintas di kepalaku, langkah kakiku mendadak gontai. Keseimbanganku goyah, dan aku hampir saja tersungkur di atas lapangan tanah itu.
Suara tawa tertahan dari barisan murid kelas sepuluh langsung terdengar bersahut-sahutan. Aku bisa merasakan sensasi mual yang hebat memukul perutku seketika. Keringat dingin menetes di pelipisku. Menahan rasa malu yang membakar wajah, aku segera memaksakan tubuhku kembali tegak sempurna di posisiku.