Seminggu sudah semenjak hari upacara. Tidak ada yang spesial, hanya beberapa gadis pengganggu yang heboh karena upacara itu. Risa juga tidak ingin mengobrol denganku dan kami hanya melakukan interaksi sewajarnya, sebatas teman dan rekan kerja di OSIS. Minggu ini akan lebih sempurna jika saja dia tidak mengajakku pergi. Tepat pukul delapan aku berdiri di depan mal menggandeng Nanda, sementara orang itu sibuk dengan ponselnya—mungkin sedang bertukar pesan dengan ibu.
"Nanda... Nanda sayang!" Perempuan itu melambai.
"Ibu!" Nanda langsung melepas tanganku dan berlari ke pelukan ibu.
Dasar, Nanda pengkhianat, candaku dalam hati.
Setelah menggendong Nanda, ibu menghampiriku. Pertemuan kami agak sedikit canggung, tetapi aku tidak mengubah ekspresi tidak sukaku. Ibu tersenyum, mencoba memegang kepalaku. Namun, aku refleks menghindar, tak tahu mengapa bisa seperti itu. Melihat anaknya dan istrinya bersama membuat dia tersenyum. Dia, yang kali ini berpenampilan necis dengan celana jins dan rambut yang diberi minyak, mendatangi kami.
"Gimana kalau kita belanja dulu habis itu makan? Kau mungkin ingin membeli sesuatu, Vel?" tanyanya.
"Aku ingin pulang saja! Kalian bisa pergi tanpaku," kataku ketus.
"Ravel Andri!" Orang itu berteriak.
"Baiklah, aku akan ikut pergi."
Aku berjalan terlebih dahulu, menepis rasa kesalku. Sungguh, sedari dulu aku ingin membunuh orang itu. Mencabik-cabik kepalanya dan memisahkan setiap organnya. Meski begitu, aku bertahan karena tak ingin membuat ibu sedih. Apalago jikalau aku melakukan tindakan criminal seperti itu. Dalam kekalutan dan emosi yang membara, aku dan Nanda dibawa masuk ke toko baju. Nanda terlihat antusias ketika ibu memilihkan baju untuknya. Setelah memilih beberapa baju, Nanda masuk ke ruang ganti bersama orang itu, sementara aku berdiri di depan bersama ibu.
"Bagaimana sekolahmu, Vel?" tanya ibu.
"Tidak ada yang penting," jawabku seadanya.
"Lalu... apa ada gadis yang anak Ibu suka?" tanya ibu dengan ekspresi menggoda.
Bayangan Risa langsung muncul di benakku, tetapi aku segera menggelengkan kepala untuk menepis itu.
"Tidak ada, aku hanya ingin fokus belajar." Lagi-lagi aku teringat Risa.
"Begitu baru anak Ibu. Anak Ibu harus fokus belajar supaya bisa jadi orang kaya. Buktikan ke keluarga super kaya orang itu kalau ibumu ini bukan orang tua yang gagal." Ibu merangkul punggungku seolah-olah aku ini adalah teman baiknya.