Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #8

Bab VIII: Aku dan Transaksi


Sehari setelah drama pertemuan keluarga di mal yang menguras emosi itu, aku harus kembali berhadapan dengan realitas melelahkan di sekolah. Tugas kelompok sosiologi dari Pak Heru benar-benar menjadi malapetaka bagi sebagian besar murid, terutama bagi tiga manusia di depanku ini.

Di sinilah kami sekarang, di kamar Ekhsan yang dingin karena AC. Di atas meja kayu, empat laptop berjajar bersama makanan kecil dan tumpukan buku tebal yang berserakan. Ekhsan telentang di lantai, lebih memilih menjawab pesan-pesan dari gadis-gadis bodoh yang menyukainya, sementara Dodit mengambil gitar dan memetiknya dengan pelan—sepertinya agar aku tidak terganggu. Hanya Yogi yang masih fokus menatap laptop, meskipun sedari tadi dia lebih banyak menghela napas frustrasi daripada membantuku mencari bahan presentasi.

Circle kami memang populer, tapi kalau sudah urusan akademik, mereka sama pintarnya seperti keledai. Memang pada saat seperti ini, mereka hanya bisa mengandalkanku. Tentu saja tidak ada yang mau menerima beban, apalagi jika kelompok dibuat secara bebas tanpa pemilihan langsung dari guru.

"Vel, ini yang bagian dampak perubahan sosial komunal maksudnya apaan sih? Sumpah, otak gue mau meledak," keluh Yogi sambil mengacak rambutnya frustrasi.

Aku yang masih mencari bahan presentasi mendongak, menatap mereka bertiga satu per satu dengan pandangan datar.

"Kalian bertiga ini niat enggak sih ngerjainnya? Aduh... duh... duh." Aku menampar jidatku sendiri.

Ekhsan tampak tidak peduli dan tetap fokus bermain dengan ponselnya, sementara Dodit masih asyik memetik gitarnya dengan lebih keras.

"Kalau kalian terus begini," aku menepuk meja berkali-kali, "mending gue kerjain sendiri, gue kumpulin sendiri, dan gue presentasi sendiri dah. Tahu deh Pak Heru bakal ngapain kalian."

Mendengar pernyataanku, Ekhsan langsung melempar ponselnya ke kasur dan Dodit berhenti bermain gitar. Mereka segera berjalan ke arahku. Dodit berdiri memijat bahuku, sementara Ekhsan mengeluarkan selembar uang merah dari dompetnya.

"Santai dong, Vel. Kita kan bro selamanya. Kalau lo ngelakuin itu, bisa mampus dihukum kita. Gimana... enak bukan pijatan gue?" ujar Dodit mencoba menenangkanku.

"Bener, Vel, kita ini bro. Ini anggap aja uang lelah buat lo. Lumayan kan, cuma ngerjain tugas buat kita, lo bisa beli kebab super jumbo favorit lo empat biji." Ekhsan tersenyum bodoh sembari menaik-turunkan alisnya.

"Kalian ini," aku menarik uang yang ada di meja sambil mendecakkan lidah, "emangnya gue cowok apaan? Kalian kira gue bisa dibeli dengan uang?" Aku jeda sejenak sebelum melanjutkan, "Karena kalian merasa bersalah dan berniat menebusnya, jadi gue kerjain. Tapi ingat, urusan presentasi itu masing-masing. Nanti kalau kalian kelihatan enggak kerja, kalian juga yang dimarahi Pak Heru."

"Bilang cowok apaan, tapi merah-merahnya diembat juga," celetuk Dodit.

Aku menatap tajam ke belakang, dan Dodit langsung menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda kalau dia hanya bercanda.

"Baiklah, karena kita ini bro dan kalian sudah menunjukkan ketulusan... ehem... dengan membayar... gue bakal kerjain semua. Tapi ingat, nanti gue jelasin lagi cara presentasinya. Minimal kalian ikut jelasin satu-dua bagian biar kalian dapat nilai bagus juga. Kalian mengerti?!" kataku menegaskan.

"Siap, Profesor Ravel!" jawab Ekhsan, Dodit, dan Yogi bersamaan.

"Woi, daripada gabut, kita beli minum yuk!" ajak Dodit.

"Yaelah, gue lagi PW nih, males. Lo sama Ekhsan aja," ujar Yogi.

"Masa beli minum pakai duit gue, gue juga yang berangkat. Males ah!" tolak Ekhsan.

"Ayolah, San. Gue masih pengen ngobrol sama Ravel. Iya kan, Vel? Gue mau diskusi sesuatu nih soal presentasi." Yogi mencoba mencari perlindungan dariku.

"Udah, kalian berdua pergi deh. Hush... hush..." Aku melambaikan tangan mengusir mereka.

Setelah melayangkan beberapa protes, akhirnya Ekhsan berdiri dan pergi keluar bersama Dodit. Akhirnya di ruangan hanya tersisa aku dan Yogi dalam ketenangan yang canggung. Tiba-tiba Yogi berdiri dari tempatnya, lalu duduk di sampingku untuk membuka pembicaraan.

"Vel, sebenarnya gue mau minta tolong." Yogi meremas kedua tangannya sendiri.

Lihat selengkapnya