Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #9

Bab IX Aku dan Rapat OSIS


Seminggu setelah transaksi rahasia di kamar Ekhsan, rencana besarku untuk menyingkirkan Silvi sekaligus melunasi utang budi pada Yogi mulai memasuki babak krusial. Sore ini, ruang OSIS yang biasanya tenang mendadak pengap dan riuh. Pengurus inti sudah berkumpul mengelilingi meja rapat panjang untuk membahas lomba dan juga bazar tahunan yang akan diadakan sekolah.

Aku mengambil tempat duduk di samping Kak Auliyah selaku Ketua OSIS. Kak April, seperti biasa, langsung menarik pipiku gemas tepat saat bokongku baru saja menyentuh kursi. Sementara itu, di seberang meja, Risa tampak serius membolak-balik dokumen sembari sesekali mengangguk, sama sekali tidak memedulikan kehadiranku.

Bagus, ini sempurna. Sekarang saatnya pertunjukan, batinku antusias.

"Baiklah, seperti biasa, menjelang hari kemerdekaan sekolah kita akan mengadakan kegiatan bazar untuk menambah kas OSIS, begitu juga dengan rangkaian lomba. Jika ada dari kalian yang memiliki ide tentang lomba dan stan apa saja yang harus kita buka, silakan mengangkat tangan," buka Kak Auliyah memimpin rapat.

Ruangan langsung menjadi riuh karena beberapa orang mulai memberikan saran yang luar biasa. Namun, semua ide tentang lomba yang masuk terdengar sangat umum, seperti lomba makan kerupuk atau balap karung. Aku menelan ludah, merasakan kecanggungan perlahan merayapi tubuhku. Perutku mendadak terasa agak sakit karena sejujurnya aku lebih suka menjadi anggota pasif dalam rapat seperti ini.

Namun, demi misiku, dengan berat hati akhirnya aku mengangkat tangan.

"Kamu punya saran, Vel?" tanya Kak Auliyah menyadari gerakanku.

Aku segera mengeluarkan laptop dari tas, menyambungkannya ke proyektor, lalu membuka file presentasi yang sudah kususun matang selama seminggu ini. Aku menarik napas dalam-dalam untuk meredam rasa gugup. Aku sudah sering melakukan presentasi sejak zaman SMP. Jadi, ini cuma hal kecil. Begitulah cara aku meyakinkan diriku sendiri.

"Ini adalah bagan yang kususun untuk acara bazar nanti," ujarku memulai presentasi. "Seperti biasa, bazar diadakan setiap tahun dengan tujuan menghimpun dana OSIS. Tapi kali ini, aku ingin membuat acaranya sedikit lebih besar. Pada acara bazar besok, aku ingin kita mengundang para alumni dari sekolah ini."

"Tunggu, Ravel. Idemu memang bagus," potong Kak Auliyah, menatap layar proyektor. "Tapi, ada beberapa kelemahan di sana. Pertama, apakah mungkin para alumni masih tertarik untuk mengunjungi sekolah kita? Kedua, bagaimana kita akan mengatur para alumni ini? Mulai dari konfirmasi kehadiran, jumlah massa, dan lain-lain?"

"Untuk masalah itu, kita bisa membangkitkan minat mereka dengan mengadakan undian berhadiah," jawabku lugas. "Kita akan membuat dua jenis tiket. Pertama adalah tiket masuk, dan kedua adalah tiket untuk membeli makanan di stan bazar. Tiket membeli makanan inilah yang akan memiliki nomor undian, yang nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah menarik."

Aku mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan. "Lalu untuk tiket masuk, kita bisa membatasi jumlah orang yang boleh dibawa oleh satu orang alumni. Dengan begitu, kita tetap bisa mengontrol jumlah kapasitas pengunjung. Selain undian berhadiah, aku juga ingin menonjolkan pertunjukan panggung band atau tarian di sini. Beberapa ekstrakurikuler tari atau musik bisa kita berdayakan untuk membantu. Kita juga bisa menampilkan pertunjukan adu bakat lain jika diperlukan."

Aku mengungkapkan semua ideku dengan runtut, termasuk detail hadiah kepada pemenang adu bakat dengan para guru sebagai dewan jurinya. Meskipun Kak Auliyah sempat menyanggah beberapa poin di ideku, berkat bantuan argumen dari Kak Dwi—dan juga Ekhsan yang ikut bersuara—aku berhasil meyakinkannya.

"Baiklah, sepertinya kita akan menjalankan idemu, Vel. Kalau begitu, kali ini kamu yang harus menjadi ketua panitianya," ujar Kak Auliyah mutlak.

"T--tunggu! Aku... tidak, Kak. Kak Auliyah lebih cocok untuk posisi ini. Lagipula Kakak adalah ketuanya dan Kakak jauh lebih berpengalaman," sanggahku panik.

"Jangan khawatir, aku pasti akan mendampingimu. Tapi... rasanya kurang adil kalau kamu tidak menjadi panitia inti setelah membuat presentasi seniat ini. Benar begitu kan, teman-teman?" Kak Auliyah melemparkan pandangan ke seluruh forum rapat.

"Benar...!" jawab mereka serempak.

"Tapi, Kak..."

"Tidak ada tapi-tapian, Ravel. Kak Dwi dan Risa nanti yang akan membantumu menyusun proposal," sela Kak Auliyah sambil menepuk pundakku pelan. "Sepertinya pilihan Pak Efendi menjadikanku wakil memang tidak salah. Kerja bagus, wakilku."

Lihat selengkapnya