Tepat pukul enam pagi aku masuk ke ruang OSIS dan mendapati Risa sudah duduk di kursinya sembari menatap fokus ke layar laptop. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar; hanya ada deretan kursi kosong, mesin pencetak, dan proyektor. Sepertinya anggota yang lain terlambat datang. Mau tak mau, aku melangkah dan duduk di kursiku sendiri untuk menunggu yang lain. Untuk membunuh waktu, aku mengeluarkan ponsel dan mulai memainkan gim. Suasana yang tadinya sunyi mendadak ramai oleh efek suara dari ponselku.
Selang beberapa saat, pintu terbuka dan Ekhsan masuk ke dalam ruangan.
"Eh, muka melon! Rajin bener dah pagi-pagi sudah datang," ujar Ekhsan. Dia berjalan dengan santai mendekati meja Risa lalu menyandarkan tangannya di sana. "Ngapain lo?"
"Aku sedang mengerjakan proposal untuk acara tujuh belasan besok. Jangan menggangguku," jawab Risa ketus.
"Yaelah, sok sibuk banget si melon. Dasar pipi tem..."
Ekhsan mencoba mencubit gemas pipi Risa, tetapi dengan sigap Risa langsung menghindar. Penolakan itu tampaknya membuat Ekhsan gemas sekaligus tidak sabar, hingga dia nekat mengunyel-unyel jilbab Risa dengan brutal. Risa mundur dan berlari menjauh, tetapi Ekhsan malah tertawa keras dan terus mengikuti langkah Risa. Mereka berdua malah berakhir main kejar-kejaran, bahkan sampai naik ke atas kursi dan meja.
Tepat saat itu, beberapa pengurus lain mulai masuk ke ruang OSIS. Melihat interaksi yang mereka anggap imut itu, sorakan menggoda langsung riuh.
"Ciyeee...!"
Teriakan orang-orang sama sekali tidak membuat Ekhsan berhenti mengejar Risa. Di sudut ruangan, aku berusaha keras mengabaikan pemandangan itu dengan pura-pura fokus pada draf poster yang sedang kukerjakan. Namun, entah mengapa aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ada sesuatu di dalam dadaku yang rasanya ingin meledak karena melihat kilat ketidaknyamanan di wajah Risa. Aku menarik kursiku ke belakang dan langsung berdiri, bersiap meluapkan amarah sekaligus rasa cemburuku pada Ekhsan.
Namun, sebelum aku sempat melangkah, sebuah suara lantang yang tegas mendadak menyelamatkanku.
"Ekhsan... Risa... berhenti bermain-main!"
Suara barusan milik Kak Auliyah. Detik itu juga suasana ruangan langsung berubah menjadi senyap. Gerombolan pengurus yang tadi bersorak kini mendadak bungkam, dan Ekhsan pun tampak malas untuk melanjutkan keisengannya. Semua orang segera mengambil posisi duduk di kursi masing-masing. Sementara Kak Auliyah membuka rapat.
"Baiklah, seperti yang sudah kita sepakati di rapat sebelumnya, kita akan menggunakan ide dari Ravel. Jadi untuk rapat hari ini dan seterusnya, Ravel yang akan memimpin jalannya diskusi. Silakan, Ravel, waktu dan tempat aku persilahkan," ujar Kak Auliyah menyerahkan kendali.
Aku berdiri, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Kemarin malam, aku sudah berkumpul dengan Ekhsan, Dodit, dan Yogi di tongkrongan untuk membahas proyek ini. Aku menyarankan agar Ekhsan, Dodit, dan Yogi maju bermain musik saat pentas nanti demi memuluskan rencana Yogi menembak Silvi. Skenarionya, aku yang akan membawa Silvi ke depan panggung, dan sisanya tinggal terserah keberanian Yogi.
Ekhsan kemarin malah bertaruh kalau Yogi akan ditolak mentah-mentah seperti dirinya, sementara aku bertaruh Yogi akan diterima. Kami akhirnya menjadikan skin limited di Mobile Legends dan pelayananku untuk mengerjakan tugas sekolah mereka selama sisa semester kelas satu sebagai taruhannya. Mengingat hal itu membuatku sangat bersemangat, karena jujur saja akun gimku belum memiliki satu pun skin premium.
"Baiklah, seperti yang kita bahas di rapat sebelumnya, aku ingin memeriksa brosur yang akan dipasang di feed Instagram. Bagaimana, Kak Kenan? Sudahkah brosurnya dikerjakan?" tanyaku memulai sesi.
"Ah, brosur itu sudah kuserahkan ke April," jawab Kak Kenan. "Gue sendiri berencana fokus membuat video promosi untuk mengundang para alumni dari sekolah kita."
"Bagaimana, Pril? Apa sudah selesai?" tanyaku beralih pada April.
"Itu..." April segera mengeluarkan laptopnya lalu berjalan mendekati mejaku. Dia membuka aplikasi edit gambar untuk memperlihatkan hasil draf brosurnya kepadaku.
Aku mengamati komposisi brosur di layar laptop April dan mendadak merasakan tanganku gatal. "Boleh aku koreksi sedikit, Pril?" tanyaku meminta izin.
April mengangguk setuju. Dalam waktu lima belas menit berikutnya, aku benar-benar tenggelam di depan layar laptop April, mengubah tata letak dan palet warnanya. Melihatku yang sibuk mendesain, Kak Auliyah segera mengambil alih sisa rapat untuk menanyakan perihal perlengkapan dan stan apa saja yang akan dibuka selama bazar nanti.
Setelah puas melakukan revisi, aku melakukan peregangan pada otot leherku yang kaku, lalu menunjukkan hasil poster baru itu kepada Kak Auliyah. April dan Risa yang merasa penasaran ikut berdiri mendekat untuk melihat hasil akhir desain yang kubuat.
"Ini... luar biasa, Vel! Ternyata kamu jago juga masalah desain grafis," puji Kak Auliyah takjub.
"Benar, ini kelihatan jauh lebih hidup dan bagus," timpal Risa dari sampingku. Pujian spontan dari mulutnya mendadak membuat pipiku terasa panas karena malu.
"Tidak... tidak juga, Kak. Itu hanya hal kecil. Lagipula aku cuma merapikan sedikit draf awal milik April," kataku memalingkan wajah, berusaha mengalihkan perhatian agar mereka tidak terlalu lama menyadari kegugupanku. "Sekarang, jika tidak ada masalah pada pemilihan katanya, kita bisa langsung memasang ini di Instagram OSIS dan akun sekolah."