Hari berikutnya berjalan seperti mesin yang berkarat. Di rumah, aku memilih menjadi hantu. Aku berangkat sebelum matahari sepenuhnya terbit, sengaja menghindari aroma masakan dapur yang kini kembali berdenyut, dan menolak melihat siluet dua orang dewasa yang mencoba bersikap seolah-olah tidak ada badai yang pernah menghancurkan atap kami.
Pagi ini adalah jadwal mata pelajaran olahraga. Para siswa laki-laki selalu berada di halaman luar terlebih dahulu, menunggu para siswi selesai berganti pakaian. Ekhsan terlihat sedang bermain basket bersama beberapa anak lain di lapangan. Gerakannya santai dan lentur, menegaskan kalau dia memang calon kuat kapten tim basket masa depan. Sementara itu, aku hanya duduk di pinggir lapangan, sama sekali tidak tertarik untuk ikut bergabung.
Melihatku yang tampak bosan, Dodit berjalan menghampiriku.
"Ayo, Vel! Ngapain lo duduk sendirian aja di situ? Lihat tuh, Irul yang cupu aja ikut main. Masa lo yang bagian dari circle kita malah enggak asyik gini," ujar Dodit sambil menarik lenganganku.
"Enggak dulu deh, Dit. Gue lagi malas," kataku mencoba menghindar.
"Ayolah... ayolah...!" paksa Dodit tidak mau menyerah.
Mau tak mau, akhirnya aku berdiri dengan ogah-ogahan. Sepanjang permainan, aku hanya berjalan malas di area lapangan, langsung mengoper bola setiap kali benda oranye itu datang padaku. Hingga akhirnya, para siswi dan guru olahraga kami datang. Hana dan gengnya langsung berteriak heboh menyemangati Ekhsan.
Pak Sammy, guru olahraga kami, meniup peluitnya untuk menghentikan permainan. Beliau memerintahkan kami melakukan pemanasan kecil, lalu berlari sepuluh putaran mengelilingi aula. Setelah itu, kami diajarkan teknik menggiring bola sebelum melakukan latih tanding.
Latih tanding pertama diisi oleh tim perempuan, dan kami para siswa laki-laki duduk di samping lapangan untuk memperhatikan. Anak-anak cowok tampak sangat menikmati pertunjukan dari siswi perempuan itu. Meski benci mengakuinya, aku juga salah satu yang ikut memperhatikan.
"Wah, emang Faiza itu mantap banget," celetuk Dodit tiba-tiba.
"Iya, bener-bener tobrut," sambung Yogi menimpali.
"Kalian ini..." Aku menepuk dahi sendiri melihat kelakuan mereka.
"Kenapa memangnya, Vel? Emang mantap itu si Faiza. Pas dia menggiring bola, gue kayak lihat ada tiga bola di lapangan. Lagian lo juga pasti dari tadi merhatiin dia, kan?" tuduh Dodit.
"Otak gue enggak memesum kayak lo, cuk," kataku membela diri, walau sedari tadi mataku juga sempat melirik ke arah yang sama.
"Mungkin aja selera Ravel bukan yang menonjol kayak Faiza. Mungkin seleranya yang kayak Erika itu," ujar Yogi asal tebak.
"Eh, jangan gitu! Erika kan sudah jadi incaran Ekhsan," celetuk Dodit cepat.
"Apaan, bangsat! Jangan jodoh-jodohin gue sama si arang hitam itu. Jijik banget gue," potong Ekhsan yang tiba-tiba sudah berada di dekat kami. Tubuhnya bergetar, memperlihatkan gestur bergidik ngeri. "Kasih Ravel noh, siapa tahu dia mau."
Aku hanya diam mendengarkan omongan mereka sampai tiba giliran tim laki-laki yang bermain. Kali ini, aku berada di tim yang berlawanan dengan Ekhsan, Dodit, dan Yogi, bersama dengan Irul di pihakku. Pak Sammy membawa bola ke tengah lapangan, dan aku diputuskan untuk melakukan rebound bersaing langsung dengan Ekhsan. Aku memiliki tinggi badan 180 sentimeter, sepuluh sentimeter lebih tinggi dari Ekhsan. Seharusnya, begitu bola dilempar ke atas, aku bisa dengan mudah memenangkan bola pertama untuk timku.
Namun, entah bagaimana, lompatan Ekhsan jauh lebih tinggi dari dugaanku. Ekhsan berhasil merebut bola di udara, dan dari operannya yang cepat, Dodit berhasil memasukkan bola ke ring kami.
"Tidak apa-apa kawan, mari kita balas!" Irul menepuk punggungku menyemangati.
Permainan dimulai kembali dan bola dioperkan ke arahku. Entah kenapa, begitu telapak tanganku menyentuh permukaan bola basket, rasa mual mendadak mengocok perutku. Aku segera mengoperkan bola yang kupegang kepada anak lain seolah benda itu beracun. Beruntung, tim kami akhirnya berhasil mencetak skor. Irul dan yang lainnya melompat kegirangan.
Tapi aku tahu ini belum berakhir. Dari tengah lapangan, Ekhsan nampak melirik ke arah Risa di pinggir lapangan, lalu menatap tajam ke arah kami. Ekhsan menyeringai, dan aku tahu itu adalah skor terakhir yang bisa tim kami cetak. Benar saja, setelah momen itu, tim kami benar-benar dihancurkan tanpa ampun. Ekhsan yang memang anak ekstrakurikuler basket bermain dengan sangat luar biasa dan dominan.
Begitu giliranku selesai, aku langsung duduk di pojok aula dengan napas terengah-engah. Murid yang lain lanjut bermain, sementara gerombolan Hana—termasuk Erika—segera mendekati Ekhsan untuk memuji-muji permainannya. Setelah puas memuja Ekhsan, tiba-tiba pandangan mata Hana tertuju padaku.
"Ternyata wakil ketua OSIS kita cuma seorang pecundang. Masa memasukkan satu bola aja susah banget," cibir Hana sengaja mengeraskan suaranya.
Entah apa masalah gadis ini dan gerombolannya yang selalu menjadikanku target sasaran. Tapi saat ini aku terlalu lelah untuk berdebat. Jadi, kali ini aku membiarkan mereka mengatakan apa saja yang mereka mau.
Pelajaran olahraga hari itu akhirnya selesai. Pak Sammy memerintahkanku untuk membawa kembali seluruh bola basket ke dalam gudang penyimpanan. Dalam sekejap, suasana aula mendadak sepi dan hanya menyisakan diriku sendiri bersama empat buah bola basket yang berserakan di atas lantai ubin.
Aku membungkuk, mengambil salah satu bola basket. Detik itu juga, sensasi menjijikkan dari masa lalu kembali menyengat kepalaku. Hari ketika aku bertanding di kejuaraan provinsi... hari kelam yang sama di mana aku hampir kehilangan ibuku selamanya karena keegoisan pria itu.
"Si brengsek itu..." Aku mencengkeram permukaan bola basket dengan sangat kuat hingga urat-urat tanganku menonjol.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan agar badai di kepalaku bisa sedikit rileks. Aku kemudian menatap ring basket yang menggantung di ujung aula, lalu menyunggingkan senyuman sinis.