Tepat pukul lima pagi aku sudah terbangun, mondar-mandir di depan kamar seperti orang bodoh. Hari ini situasiku berbeda. Ini bukan karena aku bingung mencari atau menentukan menu masakan seperti biasa, tetapi karena aku memiliki sebuah keperluan pribadi yang amat mendesak.
Siang kemarin, saat rapat pleno OSIS masuk ke sesi pembahasan sponsor, Kak Auliyah memutuskan bahwa hari ini kami semua harus mencari sponsor secara berpasangan. Kak Auliyah sudah mendata beberapa perusahaan—baik di bidang jasa maupun kuliner (F&B)—di kota ini yang biasanya royal memberikan sumbangan untuk kegiatan remaja sekolah. Karena agenda itulah, hari ini aku mutlak perlu meminjam sepeda motor.
Masalahnya, ayahku biasanya sudah mulai berangkat bekerja pukul empat sore, dan aku teramat takut kalau dia tidak akan mau meminjamkan motornya padaku. Jadi, dengan sisa-sisa keberanian yang ku punya, aku melangkah dengan putus asa mendatangi ibuku yang sedang sibuk memasak di dapur. Aku menelan ludah berulang kali. Ini benar-benar tidak mudah bagiku, mengingat aku sudah telanjur mengambil keputusan untuk tidak mengajaknya bicara sejak dia kembali. Meski begitu, pagi ini aku tidak punya pilihan lain.
"Ibu..." panggilku, suaraku terdengar sedikit ragu di ambang pintu dapur.
"Ravel?" Ibu seketika mematikan kompor dan berbalik menghampiriku dengan wajah semringah. "Ada apa, Vel? Ada yang bisa Ibu bantai... eh, Ibu bantu?"
Aku sempat tertegun karena dari dulu dia tidak berubah. Namun aku segera berusaha menguasai diri.
"Sebenarnya, aku... aku ingin meminjam motor, Bu."
Aku menundukkan kepala sedalam-dalamnya setelah kalimat itu lolos. Ada perasaan sedikit lega karena kata-kata yang selama ini tertahan di tenggorokan akhirnya bisa terlepas juga.
Ibu tidak langsung menjawab.
"Ayo, ikut Ibu dulu, Vel." Ibu tersenyum lembut.
Aku akhirnya mengekor di belakang Ibu, berjalan menuju ruang tamu. Di sana, Ibu mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi panjang dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya langsung ke tanganku.
"Ini..." Aku bergumam bingung.
Begitu aku membuka kotak persegi panjang tersebut, aku menemukan sebuah kacamata baru di dalamnya.
"Ini Ibu belikan untukmu setelah melihat hasil tes mata kamu kemarin. Bagaimana? Apa kau suka, Nak?" tanya Ibu dengan tatapan penuh harap.
Aku menatap kacamata di tanganku, dan mendadak ada rasa sesak yang membuat mataku panas. Aku ingin menangis saat itu juga. Selama ini, aku memang mengalami masalah penglihatan yang cukup mengganggu. Namun, selama di kelas aku selalu berusaha bertahan dengan cara sengaja duduk di bangku paling depan agar tidak perlu menghabiskan uang hanya untuk membeli kacamata baru. Ternyata, diam-diam Ibu memperhatikannya.
"Iya... t-terima kasih, Bu," kataku, suaraku agak terbata.
"Kemarilah, duduk di samping Ibu, Vel." Ibu menepuk-nepuk sofa kosong di sebelahnya.
Aku harus mengakui, hadiah kacamata dari Ibu benar-benar membuat hatiku yang keras ini mendadak luluh. Rasanya tidak ada alasan lagi bagiku untuk menolak permintaannya. Dengan gerakan canggung, aku akhirnya berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kau tahu, Vel..." Ibu menerawang, menatap lurus ke depan. "Ibu dulu dinikahkan oleh nenekmu ketika usia Ibu masih seusiamu sekarang. Masa-masa indah yang harusnya Ibu habiskan untuk sekolah dan mengejar ilmu, terpaksa pupus gara-gara keinginan egois nenekmu. Tapi... mungkin itu bukan sepenuhnya sebuah keegoisan. Waktu itu keluarga Ibu benar-benar miskin. Kakekmu adalah pria yang suka berjudi dan meninggalkan tumpukan utang di mana-mana. Untuk melunasi semua utang itu, nenekmu bahkan sampai terpaksa... menjual tubuhnya sendiri. Jadi, bagaimana bisa Ibu menyalahkan nenekmu atas keputusan itu?"
Ibu menoleh, menatap mataku dengan lekat. "Ibu cuma berharap kau bisa mendapat kehidupan yang jauh lebih baik dari Ibu, Vel. Karena alasan itulah Ibu memutuskan untuk kembali pulang ke rumah ini. Kau harus menjadi orang sukses kelak. Jadi, fokuslah pada sekolahmu dulu dan jangan pacaran. Jika kau sampai kebablasan dan menghamili anak orang, Ibu sendiri yang akan menyeretmu untuk bertanggung jawab, dan saat itulah Ibu benar-benar tidak akan memedulikanmu lagi."
Kata-kata yang keluar dari mulut Ibu terdengar sangat halus, namun di saat yang sama, entah kenapa terasa begitu tegas dan mengikat.
"Mana mungkin aku melakukan hal sebodoh itu, Bu," kataku, menjawab sekaligus menenangkan kekhawatiran Ibu.
"Lalu, untuk apa kau sampai perlu meminjam motor pagi-pagi begini?" tanya Ibu beralih topik, menyunggingkan senyum tipis.
"Aku memiliki tugas OSIS untuk mencari dana sponsor luar. Jadi aku membutuhkan motor untuk mendatangi beberapa perusahaan agar aku bisa melakukan presentasi proposal," jawabku jujur.
"Baiklah, gunakanlah motor Ibu. Paling tidak, motor itu kondisinya jauh lebih baik daripada milik ayahmu. Hati-hati di jalan ya, Vel." Ibu mengelus rambut kepalaku dengan lembut sebelum akhirnya berbalik kembali menuju dapur.
Aku berdiri mematung sambil mengusap rambutku sendiri. Di sela-sela jemariku, aku bisa merasakan sisa kehangatan luar biasa yang luar biasa kurindukan—kehangatan yang sempat kukira telah hilang selamanya beberapa tahun ini. Aku menatap punggung Ibu yang mulai sibuk kembali di dapur.
Mungkin... inilah saatnya aku mulai belajar memaafkan.
***
Pagi ini, atmosfer di sekolah terasa jauh lebih hidup. Pengumuman tentang acara tujuh belasan dan panggung pameran bakat yang kusebutkan kemarin seolah menjadi bahan bakar baru bagi anak-anak yang sudah bosan dengan rutinitas belajar. Di papan mading sekolah dan grup angkatan, konsep acara yang kubuat bersama Risa mulai ramai dibicarakan. Para murid sudah mulai sibuk memikirkan pertunjukan apa yang akan mereka tampilkan, lalu berbondong-bondong mendaftarkan diri.