Hari pelaksanaan acara semakin dekat dan kami, para pengurus OSIS, menjadi semakin sibuk. Sejak peristiwa terjebak hujan di ruko kosong kala itu, aku mulai mengalami insomnia yang aneh. Tiap malam, entah kenapa wajah gadis itu selalu terbayang di kepalaku, membuatku berujung melakukan gerakan peregangan yang aneh di atas kasur demi mengusir rasa cemas.
Siang itu, rasa kantuk yang berat berpadu dengan materi pelajaran Fisika menjadi sebuah kombo maut yang rasanya benar-benar ingin membunuhku. Aku akhirnya menyerah, melipat kedua tangan di atas meja, dan menenggelamkan kepalaku di sana sampai kemudian kurasakan seseorang menyentuh pundakku dengan pelan.
Aku mengangkat kepala dengan malas dan mendapati sosok bidadari di depan mataku. Tunggu, kenapa bidadari ini mengenakan jilbab? Itu pasti bidadari berhijab dan aku saat ini pasti sedang berada di surga.
"Vel... Ravel..."
Suara lembut yang sangat kukenal itu seketika membuat mataku melek seutuhnya. Setelah mengumpulkan kesadaran dan memperhatikan dengan jelas, aku mendapati Risa ternyata sudah berdiri di depan mejaku bersama dengan Irul. Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawaku, lalu dengan tenaga yang lemah menjawab panggilan mereka.
"Kenapa?" tanyaku serak.
"Lo gila juga ya, Vel. Berani banget lo tidur nyenyak di jam pelajaran Bu Kusnanti," bisik Irul geleng-geleng kepala.
"Gue ngantuk banget, Rul. Sekarang kalau boleh..." Aku bermaksud kembali menurunkan kepalaku ke atas meja, tetapi tangan Risa tiba-tiba bergerak mendekat ke arah wajahku, membuatku secara refleks menarik tubuhku ke belakang.
"Apaan sih? Gue ini capek!" kataku dengan nada ketus.
"Ravel... kamu harus datang ke aula kali ini. Kamu kan ketua panitianya, masa enggak mau bantu sama sekali? Makanya, jangan main gim semalaman. Lihat tuh kantung matamu sampai hitam begitu," ujar Risa sambil mengernyitkan alisnya, menatapku cemas sekaligus gemas.
Dasar, siapa memangnya yang membuatku sampai tidak bisa tidur semalaman? gumamku kesal dalam hati.
Aku akhirnya berdiri dari kursi dan berjalan menuju toilet untuk membasuh muka. Setelah merasakan kesegaran air dingin menerpa wajahku, aku keluar dan terkejut karena mendapati Irul dan Risa ternyata masih setia menunggu di luar koridor.
"Kalian berdua beneran niat banget ya? Lagian, enggak ada gue sehari saja di sana juga enggak bakal berpengaruh apa-apa, kan?" gerutuku.
"Iya, mereka berdua memang beneran niat. Dan itu semua atas perintahku!"
Dari balik tubuh Risa dan Irul, mendadak muncul sosok berkulit putih berambut panjang bergelombang. Mak Lampir yang selalu saja menyusahkan hidupku.
"Mak Lampir..." kataku bergidik ngeri secara refleks.
"Kau panggil aku apa barusan?!" Kak Auliyah langsung maju dan menjewer telingaku dengan sadis. "Sekarang tidak ada alasan lagi, ayo kita pergi ke aula untuk menyiapkan panggung!"
"Kak Auliyah, sakit! Aku mengerti... lepas... lepaskan! Telingaku bisa memanjang menjadi goblin kalau kau terus menariknya seperti ini!" protesku kesakitan.