Hari pelaksanaan acara puncak akhirnya tiba, dan kompleks sekolah kami sudah berubah total menjadi lautan manusia sejak pukul enam pagi. Umbul-umbul merah putih berkibar gagah di sepanjang pagar depan, bersahutan dengan dentum bas dari sistem suara aula yang sedang diuji coba oleh tim perlengkapan. Kami, para pengurus OSIS, sibuk mengatur kedatangan alumni sekaligus melakukan persiapan akhir sebelum pertunjukan bakat dimulai tepat pukul delapan. Setelah memastikan semua pos penting telah diisi, aku segera kembali melangkah menuju aula.
"Bagaimana, San? Apa semua sudah siap? Kita harus memastikan semuanya sukses untuk Yogi nanti," kataku begitu mendapati Ekhsan di dekat panggung.
"Jangan khawatir, sound sudah oke dan kami akan tampil paling belakang. Pastiin lo bawa Silvi ke depan panggung tepat saat kami selesai." Ekhsan menyeringai, menepuk bahuku mantap.
"Jangan khawatirkan soal itu. Ingat saja taruhan kita kemarin," jawabku, melempar senyum tipis.
Aku segera berjalan menyusuri aula dan melihat para alumni sudah mulai menyerbu area bazar serta loket pembelian tiket makanan yang dijaga ketat oleh April. Di sudut lain, pandanganku mendadak terkunci pada satu sosok. Di sana, Risa yang mengenakan jilbab warna pink sedang sibuk memeriksa tiket masuk bersama dengan Kak Dwi. Kulitnya yang putih bersih tampak begitu kontras dengan jilbabnya, parasnya masih luar biasa memikat, ditambah dengan bibirnya yang terlihat sedikit mengkilat karena sapuan lip gloss sore ini.
Detik itu juga, perasaan di dalam dadaku mendadak meluap hebat. Ini bukan sekadar nafsu dangkal yang ingin melumat bibir tipisnya. Ini jauh lebih dalam, sebuah luapan emosi yang begitu pekat hingga rasanya seperti aku sedang kelaparan dan ingin menelan bulat-bulat sosok Risa ke dalam hidupku agar dia tidak bisa pergi ke mana-mana.
Sial, apa yang sebenarnya kupikirkan?
Plak! Plak!
Aku menampar kedua pipiku dengan keras menggunakan tangan untuk menepis pemikiran aneh nan gila itu. Semua harus tetap berjalan sesuai rencanaku. Aku harus fokus memeriksa stan OSIS dan berbelanja jika ada keperluan yang mereka butuhkan. Sebelum melakukan itu, aku melangkah menghampiri Silvi yang sedang berkumpul dengan anak OSIS lainnya, sibuk menjelaskan rentetan acara hari ini kepada beberapa alumni.
"Sil, temenin gue keliling yuk. Setelah pembukaan Kepala Sekolah, bantu gue buat nyiapin anak-anak yang ikut pertunjukan bakat nanti!" pintaku langsung begitu dia luang.
Silvi menoleh dengan kening berkerut. "Kukira kamu hanya akan memeriksa di sini saja, Vel. Kan Kak Dimas dan Kak Auliyah yang akan menjadi MC di atas panggung."
"Apa maksudmu? Bukankah kita para panitia juga berhak untuk menikmati acara hari ini?" Aku tersenyum tipis, mencoba bersikap seramah mungkin.
Aku pun mengajak Silvi berkeliling dari satu stan ke stan lain untuk memeriksa kondisi lapangan, sekaligus menemaninya berbelanja beberapa barang kebutuhan operasional panitia. Tanpa terasa, waktu bergulir cepat hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku dari Ekhsan, mengabarkan kalau sebentar lagi giliran band mereka yang akan naik panggung.
"Sil, yuk kita ke aula. Kita lihat pertunjukan bakat yang sekarang!" pintaku, mencoba mengarahkannya sesuai skenario.
Silvi tersenyum lebar, mengangguk antusias. "Boleh. Lagipula hari ini benar-benar sangat menyenangkan, Vel. Ini... rasanya seperti kita sedang berkencan."
Secara tak terduga, Silvi tiba-tiba memiringkan kepalanya dan meletakkan kepalanya di lengan kanan badanku.
"Kencan? Jangan bercanda. Ini cuma kegiatan koordinasi antar-panitia," jawabku ketus, langsung mendorong kepala Silvi menjauh menggunakan tangan kiriku demi menjaga jarak.
Kami segera melangkah masuk ke dalam aula yang sudah penuh sesak. Di atas panggung, seorang anak dari kelas lain sedang menunjukkan bakat tarinya yang memukau. Begitu pertunjukan tari itu selesai dan riuh tepuk tangan mereda, Kak Auliyah keluar ke tengah panggung bersama dengan Kak Dimas.
"Baiklah, itu tadi adalah pertunjukan yang sangat memukau dari Ageng kelas X-3! Sekarang, mari kita sambut pertunjukan dari anak kelas X-1. Mereka tidak hanya akan membawakan lagu orang lain, melainkan menampilkan pertunjukan musik dengan lagu yang mereka tulis sendiri. Inilah dia, band STESIA!"
Gemuruh aula seketika pecah. Di atas panggung, Dodit sudah duduk mengambil posisi di balik set drum, Ekhsan bersiap dengan bas di tangannya, dan Yogi melangkah maju memegang gitar akustik-elektrik sembari menyesuaikan posisi mikrofon di depannya. Semua orang berteriak riuh rendah saat alunan musik mulai mengalun. Mereka ikut bernyanyi bersama menikmati untaian lirik musik yang ditulis sendiri oleh Yogi. Musik yang sarat akan untaian makna pernyataan cinta itu benar-benar terdengar begitu dalam dan menyentuh hati setiap penonton yang hadir.
"Kita harus melihat lebih dekat dari depan!" seruku di telinga Silvi.
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung menarik lengan Silvi, beringsut membelah kerumunan di antara lautan penonton hingga akhirnya kami berhasil sampai di barisan paling depan panggung. Beberapa saat setelah itu, petikan lagu berakhir dan musik pun selesai. Namun, alih-alih turun, Yogi meletakkan gitarnya dan mengambil mikrofon dengan tangan yang tampak sedikit gemetar. Suasana aula mendadak senyap.