Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #15

Bab XV: Aku dan Keluarga


Aku selalu mempertanyakan satu kata yang diagungkan banyak orang: keluarga. Bagiku, kata itu tidak lebih dari sebuah ruang tunggu yang dipenuhi kepalsuan.

Pagi itu, udara di halaman rumah Nenek terasa gerah meski matahari baru saja merangkak naik. Karpet merah tebal digelar menutupi seluruh halaman depan, menyambut rombongan keluarga pria yang akan melamar Tante Wina. Di antara kerumunan itu, aku melihat calon suami tanteku berdiri dengan kemeja batik rapi. Aku menaruh hormat pada pembawaannya, tetapi di saat yang sama, aku mengasihaninya. Pria itu tampak begitu bodoh karena tidak mampu melihat belati yang tersembunyi di balik senyum manis wanita yang akan dinikahinya.

Sejak kecil, telingaku sudah kenyang oleh cerita Ibu tentang Tante Wina. Mulai dari drama kelam saat tanteku itu diseret keluar dari diskotik malam karena menemani temannya, hingga tuduhan kejam yang paling membekas di dadaku: dia pernah menuduh adikku sebagai anak haram. Hubungan kami yang sudah retak semakin hancur berantakan ketika Ibu ketahuan berselingkuh. Sejak hari itu, setiap kali berpapasan dengan Tante Wina, udara di sekitarku selalu dipenuhi oleh kata-kata kotor yang dia bisikkan tanpa belas kasihan.

Begitu aku melangkah melewati ambang pintu, Kakek yang sedang duduk di kursi rotan langsung melambaikan tangan padaku.

“Ravel… sini duduk dekat kakek.”

Aku berjalan dengan kaku, menyeret langkah menuju sudut ruangan dan duduk di sebelahnya. Suasana canggung langsung menyergap.

“Uhm… cucu kakek yang paling pintar. Gimana sekolahmu?” tanya Kakek, matanya menyipit ramah.

Pujian itu mendarat di telingaku tanpa rasa. Hambar. Dulu, aku mungkin akan tersenyum bangga karena tahu pujian ini lahir dari hasil banting tulang Ibu yang menemaniku belajar hingga aku berhasil menembus SMP terbaik di kota melalui ujian tulis. Namun sekarang, semuanya terasa hambar. Aku tahu persis Kakek hanya sedikit pilih kasih karena menyayangi Ayah, sementara Nenek di sudut lain sibuk memanjakan sepupu-sepupuku yang lain.

“Sekolahku baik, Kek,” jawabku pendek, sekadar berbasa-basi agar percakapan ini cepat usai.

Tak berapa lama, halaman depan mendadak penuh dan bising. Paman, bibi, dan sepupu-sepupuku berdatangan, membawa atmosfer perayaan yang membuat kepalaku pening. Di tengah keriuhan itu, Tante Wina keluar dari dalam kamar.

Dia terlihat begitu anggun. Gaun putih panjangnya melambai lembut, dipadukan dengan bandana mutiara yang membingkai wajahnya yang terawat. Ibu selalu bilang dia iri pada Tante Wina. Win, yang berarti pemenang. Nama itu seolah menjadi jaminan hidupnya; lahir di keluarga mapan, lulus dari universitas ternama, dan kini mendapatkan pria mapan yang memujanya. Tante Wina adalah definisi kesempurnaan. Dia bahkan selalu menjadi orang pertama yang mengusap kepalaku dan menyelipkan angpau paling tebal setiap hari raya, mungkin karena aku berhasil masuk ke SMP favorit yang sama dengannya dulu.

Namun, setiap kali menatap wajahnya, darahku berdesir panas. Rasa benci dan dendam bergolak di lambungku. Sejak Ibu pergi dari rumah, wanita bergaun putih anggun ini berubah menjadi monster yang selalu mendesiskan kata "pelacur" setiap kali nama Ibuku disebut.

Melihatku duduk di dekat Kakek, Tante Wina mengulas senyum manis dan melangkah menghampiriku.

“Bagaimana SMA Nusantara, apakah menyenangkan?” tanyanya, suaranya terdengar begitu lembut di depan kerabat yang lain.

“Ah, iya Tante. Terima kasih sudah membantuku masuk ke sana,” kataku, berusaha keras menahan otot wajahku agar tidak memperlihatkan kekakuan.

“Tenang saja. Lagian kalau mau berterima kasih, berterima kasihlah pada Om Anto. Dia yang merekomendasikan sekolah itu ke kepala sekolah.”

Tepat setelah itu, rombongan keluarga Om Anto tiba dan prosesi lamaran pun dimulai. Aku memilih mundur ke meja sudut, mengunyah kue-kue kering sembari menonton sandiwara keluarga ini. Satu jam berlalu penuh tawa dan kesepakatan acara pernikahan hingga akhirnya keluarga Om Anto berpamitan pulang.

Merasa kandung kemihku mendesak, aku berdiri dan berjalan menuju toilet di bagian belakang rumah. Namun, begitu aku menutup pintu kayu toilet, sayup-sayup suara dari balik dinding tripleks yang membatasi dapur membuat gerakanku terhenti. Suara yang sangat familier. Itu suara Tante Wina dan Ayah.

Lihat selengkapnya