Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #16

Bab XVI Aku dan Hantu Dari Masa Lalu


Masa SMA sering kali diagungkan orang sebagai lembaran paling bergejolak dalam hidup. Sebuah fase di mana remaja sibuk menuntut pengakuan, mencari jati diri, dan dengan sengaja melakukan kebodohan demi sebuah pelajaran. Ada yang jatuh cinta dengan menggebu-gebu seperti Yogi dan Silvi, ada yang masih terseok-seok mengejar kepastian seperti Irul dan Ekhsan. Dan di sudut paling gelap, ada orang sepertiku—yang hidupnya terkunci rapat oleh rantai trauma masa lalu. Bagiku, setiap detik yang berjalan di sekolah ini terasa begitu lama dan menyiksa.

Setelah riuh rendah acara bazar mereda, atmosfer organisasi OSIS mendingin. Belum ada rapat besar lagi yang mendesak. Kegiatan kami hanya seputar menarik iuran sukarela anggota dan memperbarui pamflet informasi di mading sekolah.

Meskipun letak meja kami hanya sepelemparan batu, aku bisa merasakan jarak yang membentang teramat jauh antara aku dan Risa. Beberapa minggu ini, aku dengan sengaja mengeraskan hati. Tidak ada lagi teguran, tidak ada lagi tatapan mata, bahkan aku menolak untuk sekadar menoleh ke barisan meja belakang tempat dia duduk. Aku mengubur diriku dalam tumpukan buku pelajaran, memaksa otakku bekerja sampai mati rasa. Membosankan, memang. Namun, itu jauh lebih aman daripada membiarkan hatiku goyah.

Hingga suatu pagi, dinding pelindung yang kubangun dengan susah payah mendadak retak oleh ketukan pintu. Wali kelas kami melangkah masuk diikuti seorang siswi baru di belakangnya.

“Baiklah, perhatian semuanya. Hari ini kelas kita kedatangan murid pindahan. Putri, silakan masuk.”

Begitu sosok itu melangkah melewati ambang pintu, jemariku yang sedang memegang pulpen mendadak kaku. Detak jantungku berdentum kasar menghantam dada.

Gadis itu tidak berubah sedikit pun. Jilbabnya dipakai asal-asalan, sengaja memperlihatkan beberapa helai rambut depannya yang mencuat. Bibirnya yang tebal dipulas pelembab mengilap, kontras dengan kulit kuning langsatnya yang mulus. Seluruh isi lambungku mendadak bergolak mual. Hari suram yang kupikir sudah terkubur di masa SMP, kini mendadak bangkit kembali.

Pandangan kami beradu di udara. Refleks yang lahir dari rasa benci membuat kami saling menunjuk secara bersamaan.

“Ravel….”

“Putri….”

Satu kelas mendadak senyap, menatap kami bergantian dengan raut bingung. Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Ingatanku langsung melesat ke masa kelas dua SMP, hari di mana gadis di depan panggung ini menyebarkan rumor busuk bahwa tim basket sekolah kalah total karena kecerobohanku. Sejak hari itu, setiap kali aku berjalan di koridor SMP, tatapan jijik dari para siswi selalu menyengat punggungku. Dan sekarang, sang perundung dari masa lalu itu berdiri di sini, mengulas senyum ramah yang tampak begitu palsu di mataku.

“Perkenalkan, namaku Putri Nur Rahmawati. Aku pindahan dari SMA Negeri 3,” ucapnya dengan nada manis yang dibuat-buat.

“Baiklah, Ibu harap kalian bisa berteman baik dengan Putri,” ujar Wali Kelas menutup perkenalan.

Putri berjalan anggun menuju barisan meja tengah, bergabung dengan kelompok Hana. Tak butuh waktu lama bagi gadis seperti dia untuk melebur. Begitu jam pelajaran kosong dimulai, meja mereka langsung berubah riuh oleh bisik-bisik yang sengaja dikeraskan.

“Jadi, lo udah kenal sama Ravel dari dulu? Kalian satu SMP?” Suara Hana melengking, sengaja memancing perhatian.

“Iya, kami satu sekolah dulu,” jawab Putri, suaranya terdengar renyah namun menyembunyikan duri.

Kasak-kusuk langsung menjalar di seisi kelas. Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah mejaku. Aku tetap bergeming, menundukkan kepala sedalam mungkin sembari menatap layar ponsel, berpura-pura tidak mendengar apa pun walau telingaku terasa panas.

“Wah, benarkah? Bukankah itu SMP favorit yang cuma menerima jalur prestasi dan mandiri?” sahut Hana lagi dengan nada takjub.

“Tentu saja. Ravel itu sejak dulu memang pintar. Dia juga hebat banget main basketnya,” tutur Putri.

Mendengar kata "basket" disebut, kepalaku refleks terdongak. Mataku langsung mengunci tatapan Putri di seberang ruangan. Di sana, gadis itu sedang menatapku balik dengan sudut bibir yang terangkat tipis—sebuah seringai kemenangan yang sangat kukenal. Aku buru-buru memalingkan wajah kembali ke depan, mengutuk diriku sendiri karena telah menunjukkan reaksi. Merasa dadaku semakin sesak oleh atmosfer kelas yang mendadak asing, aku berdiri menyambar ponselku dan berjalan cepat keluar menuju kantin.

Aku memesan segelas es teh, lalu duduk di sudut kursi panjang yang sepi. Berusaha mengalihkan pikiran, aku membuka aplikasi komik di ponsel dan menggulir layarnya dengan cepat. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Sekelebat bayangan menutupi cahaya matahari pagi, diikuti suara derit kursi di hadapanku yang ditarik kasar.

Lihat selengkapnya