Beberapa minggu berlalu tanpa ada pergerakan berarti dari Putri. Dia seolah melebur sempurna dengan ekosistem kelas XI-2, sementara pengurus OSIS mulai disibukkan oleh rapat-rapat maraton untuk mempersiapkan acara Pondok Ramadan bulan depan. Namun, ketenangan semu itu pecah berantakan pada sebuah istirahat siang yang terik.
Suasana kelas yang tadinya riuh oleh obrolan ringan mendadak senyap begitu sesosok pria berbadan tegap berdiri di ambang pintu. Kak Andra. Ketua ekstrakurikuler futsal itu melangkah masuk, langsung menuju meja Risa dan mengajaknya mengobrol.
Ekhsan, yang sejak lama menaruh hati pada Risa, jelas tidak menyukai pemandangan itu. Aura permusuhan langsung menguar dari tempat duduknya. Dasarnya Ekhsan, dia tidak bisa menahan diri jika emosinya tersulut. Dengan langkah santai yang dibuat-buat, dia berjalan melewati meja Risa dan melakukan kebiasaan jahilnya—menarik ujung jilbab gadis itu hingga Risa terpekik kecil.
Namun, kali ini Kak Andra memutuskan untuk bertindak sebagai pahlawan.
Cret!
Tangan Kak Andra mencengkeram kuat pergelangan tangan Ekhsan sebelum sempat menjauh. Dalam hitungan detik, atmosfer kelas berubah mencekam. Kedua cowok itu saling tatap dengan rahang mengeras, lalu mulai saling dorong dengan intensitas yang semakin meninggi.
Aku yang sedari tadi duduk tenang di bangku belakang sembari fokus pada layar ponsel, diam-diam menikmati kerusuhan ini. Sudut bibirku terangkat tipis. Tidak setiap hari aku bisa menyaksikan drama picisan FTV secara langsung, di mana dua tokoh pria populer saling adu jotos demi memperebutkan seorang wanita.
Saat aksi saling dorong itu hampir berubah menjadi adu hantam, Putri tiba-tiba melangkah ke tengah, berdiri tepat di antara Ekhsan dan Kak Andra.
"Berhenti berkelahi!" teriak Putri, suaranya yang melengking memecah keheningan kelas. Kedua tangannya terangkat, mendorong dada Ekhsan dan Kak Andra perlahan. "Aku bener-bener ketakutan melihat kalian kayak gini. Kalian tahu, orang bijak pernah bilang... daripada berkelahi pakai otot, lebih baik bertanding secara jantan untuk membuktikan diri. Karena itu, gimana kalau kalian selesaikan ini secara sportif? Mungkin... di bawah ring basket?"
Andra dan Ekhsan saling melempar tatapan tajam, seolah siap menerkam satu sama lain. Namun, usulan Putri tampaknya berhasil menyentuh ego maskulin mereka. Napas mereka yang memburu perlahan mulai stabil.
"Gimana, Ndra? Lo berani?" Ekhsan mendengus sinis, merapikan kerah bajunya yang sempat kusut. "Perlu gue ingetin, gue cukup dominan di lapangan basket. Bahkan Kak Farel bilang gue calon kuat buat jadi kapten selanjutnya."
"Terus, gue harus takut?" Kak Andra maju satu langkah, memberikan tatapan penuh intimidasi yang membuat seisi kelas menahan napas. "Kalau lo punya nyali, gue tunggu di lapangan. Siapa pun yang menang, bisa jalan bareng dan ngedate seharian penuh bareng Risa."
Mendengar taruhan gila itu keluar dari mulut Kak Andra, aku langsung menegakkan badan. Konsentrasiku pada game di ponsel pecah total. Aku menoleh ke arah Risa; gadis itu tampak menggigit bibir bawahnya, wajahnya polos dan binging. Aku yakin dia ingin memprotes, tetapi situasi terlanjur terlalu panas dan Risa sendiri adalah gadis yang baik dan ramah.
Mataku kemudian bergeser pada Putri. Di sana, di dekat kerumunan, bibir berpelembab mengilap milik gadis itu menyunggingkan sebuah senyum kepuasan. Detik itu juga aku sadar: kedua cowok bodoh ini baru saja masuk ke dalam perangkap yang dipasang oleh perempuan brengsek itu.
Darahku mendadak berdesir panas. Aku hampir berdiri dari kursi untuk menegur Kak Andra karena telah menjadikan Risa sebagai bahan taruhan, namun logika dan rasa enggan untuk terlibat kembali mencengkeram pundakku. Aku mengurungkan niatku.
"Baiklah kalau begitu, ayo pilih harinya. Biar lebih menantang, kita taruhan uang juga. Gimana, berani enggak lo?" tantang Ekhsan, ego remajanya sudah tersulut penuh.
"Hari Minggu besok. Pastikan lo bawa tim terbaik lo, San. Biar lo enggak malu-malu amat pas kalah nanti," sahut Kak Andra. Dia mengetuk meja di dekatnya beberapa kali dengan ujung jari, menunjuk Ekhsan dengan pandangan meremehkan, lalu berbalik pergi meninggalkan kelas.
Bodoh. Benar-benar sekelompok orang bodoh, batinku, kembali menyandarkan punggung ke kursi.
Begitu sosok Kak Andra menghilang di koridor, kelas XI-1 langsung meledak oleh kehebohan. Anak-anak perempuan mulai bersorak jahil, menggoda Ekhsan yang wajahnya mendadak memerah.
"Ciyeee, yang jatuh cinta demi ayang nih!"
"Ekhsan ngeri banget kalau udah bucin!"
Teriakan bersahutan itu semakin riuh saat Dodit dan Yogi menepuk-nepuk bahu Ekhsan, memberikan dukungan mental dan berjanji akan ikut mengisi slot tim basketnya hari Minggu nanti. Di tengah keriuhan itu, aku melihat sekelebat bayangan berjalan mendekat. Putri berjalan melewatiku, menghentikan langkahnya sejenak, lalu melempar sebuah senyuman yang menyembunyikan rencana gelap.
Tiba-tiba, dia berteriak, menginterupsi sorakan kelas.
"Sudah... sudah... berhenti mengejek Ekhsan. Setidaknya Ekhsan jauh lebih berani dan jantan daripada beberapa pria yang cuma bisa sembunyi di sini," ucap Putri dengan nada menyindir, matanya sengaja melirik ke arahku selama beberapa detik. "Sekarang, mari kita pilih orang untuk tim Ekhsan. Kita tahu Ekhsan, Dodit, dan Yogi udah pasti ikut. Kita butuh dua orang lagi."
Suasana mendadak senyap. Beberapa anak laki-laki yang malas ikut campur perlahan memutar tubuh dan menyelinap keluar kelas menuju kantin. Firasat buruk langsung menyengat tengkukku. Aku buru-buru menyenggol lengan Irul, memberi isyarat untuk segera pergi dari sana. Namun, baru saja aku hendak berdiri, langkahku terkunci. Putri sudah berdiri tepat di depan mejaku, menghalangi jalan.