Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #18

Bab XVIII Aku dan Latihan


Lampu sorot kuning dari tiang besi di sudut lapangan pribadi rumah Ekhsan melempar bayangan tubuh kami yang memanjang di atas lantai semen. Suara pantulan bola basket terdengar monoton, beradu dengan deru napas yang mulai tersengal-sengal. Malam itu, kami membagi tim untuk latih tanding dadakan. Aku dipasangkan berdua dengan Ekhsan, melawan Dodit, Yogi, dan Irul.

Meski siang tadi aku sempat membuat seisi aula terperangah, malam ini tubuhku menolak bekerja sama. Ingatan tentang helai rambut Ibu dan ancaman Putri seperti jangkar yang menahan kedua kakiku. Beberapa kali bola melesat melewati jangkauanku tanpa perlawanan. Operanku pada Ekhsan pun terlalu lemah, mudah dipotong oleh intersep santai dari Yogi. Alhasil, papan skor imajiner kami menjadi bulan-bulanan.

"Apa-apaan sih lo, Vel! Yang serius dong mainnya!" Ekhsan berteriak frustrasi, melempar bola dengan sentakan kasar ke arah dadaku. Tangannya bertumpu pada lutut, napasnya memburu. "Mana gerakan spin move lo yang keren tadi siang? Tunjukin!"

Aku menangkap bola itu dengan malas, membiarkannya mendekam di pelukan lenganku.

"Udah gue bilang, gue enggak pandai main basket. Siang tadi itu cuma hoki. Gue terpilih masuk tim inti SMP dulu cuma karena tinggi gue menyentuh seratus tujuh puluh senti. Kalau gue cebol, mana mungkin pelatih mau ngelirik."

Dodit berjalan mendekat sembari menyeka keringat di lehernya dengan kaos oblong yang dia angkat. "Udah, San. Mungkin Ravel beneran lagi wong hoki tadi siang. Liat aja tuh gerakannya sekarang, kaku banget kayak kanebo kering, Cuk. Dia menang tinggi doang. Mending taruh dia di posisi center aja buat urusan rebound sama rebutan bola atas."

"Itu ide bagus," sahutku cepat, buru-buru menyetujui agar tidak perlu banyak bergerak memegang bola.

“Halah, lo cuma mau malas-malasan kan, Vel? Sayang banget tinggi badan sama akurasi tembakan lo kalau cuma disuruh diem di bawah ring." Ekhsan mendengus, matanya menyipit tidak puas.

"Tapi emang biasanya gue main di center kok," kataku menegaskan, mencoba menyudahi perdebatan.

Kalimatku terputus oleh suara derit pintu pagar besi lapangan yang dibuka dari luar. Beberapa pasang alas kaki terdengar melangkah masuk, memecah keheningan malam kompleks. Aku menoleh dan seketika membeku.

Risa, Putri, Hanna, Silvi, dan Lia berjalan beriringan membawa beberapa kantung plastik besar yang tampak berat.

"Halo, cowok-cowok!" Lia melambaikan tangan dengan ceria, langsung berjalan menuju bangku panjang di tepi lapangan.

Begitu rombongan itu masuk, seluruh fokus gerak mataku langsung terkunci pada satu sosok. Risa. Malam ini dia memakai pakaian serba hitam, kontras dengan celana kain dan tas jinjingnya yang berwarna krem. Jilbab hitam bermotif membungkus wajah bulatnya dengan sangat pas, mempertegas kulit putih bersihnya yang tampak bersinar di bawah temaram lampu sorot lapangan.

Ini kali pertama aku melihat Risa mengenakan pakaian kasual di luar seragam sekolah. Dadaku mendadak bergemuruh hebat, meletupkan sebuah dorongan impulsif yang gila di dalam kepala. Rasanya, saat itu juga, aku ingin melemparkan bola di tanganku, berjalan mendekat, lalu memeluk tubuhnya erat-erat untuk menumpahkan seluruh beban yang menyiksa dadaku belakangan ini.

Aku buru-buru menggelengkan kepala, mengusir pikiran tidak waras itu. Saat aku melirik ke samping, aku menyadari tatapan Ekhsan tidak kalah intensnya. Cowok itu menatap Risa dengan binar yang sama, membuat sudut hatiku mendadak terasa perih.

"Kalian sudah datang? Kebetulan banget, tenggorokan gue udah kayak padang pasir!" Dodit langsung mengambil langkah seribu, berlari antusias mendekati Lia dan mencoba merebut kantung plastik di tangannya.

"Eits! Santai dong, Dod! Jangan kayak orang enggak dikasih makan setahun," Lia berkelit, menyembunyikan kantung itu ke belakang punggungnya sembari tertawa. "Ayo berkumpul dulu, kita makan bareng-bareng."

Anak-anak cowok langsung berkerumun di sudut lapangan, duduk bersila di atas lantai semen sembari membuka bungkusan makanan. Aku tetap bergeming di tengah lapangan, memegang bola dengan bimbang. Langkah kaki rasanya terlalu berat untuk membaur di bawah terang lampu yang sama dengan mereka. Namun, Irul yang menyadari keterdiamanku langsung berjalan mendekat, mencengkeram lenganku dan menyeretku paksa ke pojok ruangan.

"Vel, ini buat kamu."

Sebuah tangan terulur di depan wajahku. Risa sudah berdiri di sana, menyodorkan sepotong donat piringan gula dan segelas minuman dingin.

Aku tertegun sejenak sebelum menerimanya dengan gerakan kaku.

 "Ah... iya, terima kasih." kataku canggung.

Lihat selengkapnya