Aku lupa tepatnya hari apa itu. Memoriku sengaja mengaburkan tanggalnya, tetapi mendung yang menggelayut di langit sore itu tercetak abadi di kepalaku.
Saat itu, aku masihlah Ravel yang polos. Seorang bocah SMP yang memandang dunia lewat lensa yang bersih, yang mengira bahwa senyum orang dewasa selalu berarti kebahagiaan. Aku sangat menyukai bau keringat setelah olahraga, dan di atas segalanya, aku mengagumi si brengsek itu—lelaki yang kupanggil Ayah. Aku mengaguminya karena deretan sertifikat silat yang dia pajang di ruang tamu, lengkap dengan sabuk hitam yang melingkar gagah. Aku selalu berusaha mengekor di belakangnya, mencari perhatian kecil, tetapi dia selalu lebih peduli pada burung-berung berkicau di dalam sangkar bambunya daripada eksistensiku.
Namun, aku tidak peduli. Rasa haus akan kasih sayangnya mendadak terbayar lunas ketika pada suatu sore, dia melempar sebuah bungkusan besar ke arahku. Sebuah bola basket kulit bermerek yang selama ini hanya bisa kupandangi lewat etalase toko.
Sejak hari itu, duniaku bertumpu pada detak pantulan bola. Aku berlatih hingga telapak tanganku kapalan. Ketika masuk ke SMP favorit yang terkenal dengan dominasi tim basketnya, aku berhasil lolos seleksi. Latihan di sana bagai neraka yang membakar fisik; bentakan pelatih, lari memutari lapangan di bawah terik matahari, hingga otot kaki yang mati rasa menjadi makanan harian. Tapi aku bahagia. Aku memiliki banyak teman yang menepuk pundakku setiap kali aku mencetak angka.
Lalu, retakan pertama dalam hidupku muncul tanpa suara.
Ibuku mengenal Om Vikri. Seorang pria yang usianya sepuluh tahun jauh lebih muda darinya, dengan potongan rambut gondorong dan senyum yang terlalu manis untuk ukuran seorang pria asing. Sejak perkenalan itu, rutinitas malamku berubah. Ibu menjadi sering menitipkanku di rumah Nenek hampir setiap sore. Dia bermain curang di belakang Ayah, melangkah keluar rumah dengan aroma parfum yang menyengat, dan baru kembali saat tengah malam melarut.
"Ravel, ini uang untukmu bermain di warnet. Ibu akan jemput kamu agak malam, ya?"
Saat itu, kata-kata Ibu selalu terdengar menyenangkan di telingaku yang naif. Aku menerima lembaran uang itu dengan binar gembira, menggunakannya untuk menyewa bilik warnet hingga berjam-jam, atau sesekali mendrible bola basket di lapangan semen yang tak jauh dari rumah Nenek. Aku tidak tahu bahwa lembaran uang itu adalah upah agar aku menutup mata dari kebusukan yang sedang dia bangun.
Waktu bergulir cepat hingga turnamen basket antar-kabupaten dibuka. Aku tumbuh menjadi point guard yang krusial, mesin pencetak poin yang membawa tim kami merangkak naik. Tinggal selangkah lagi, kami akan menyentuh babak semifinal.
Hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Namun, tidak seperti biasanya, malam sebelumnya Ibu tidak menitipkanku ke rumah Nenek. Dia justru pulang sangat pagi dengan pakaian yang kusut. Sebelum matahari benar-benar terbit, pintu kamarku berderit terbuka. Ibu menyelinap masuk, duduk di tepi ranjangku dengan napas yang tertahan.
"Ravel..." Suara Ibu bergetar hebat, laksana untaian benang yang nyaris putus. Kedua tangannya yang dingin mencengkeram lenganku, matanya yang sembap memancarkan ketakutan yang luar biasa. "Bisakah... bisakah kamu bolos sekolah hari ini? Tolong, temani Ibu di rumah. Jangan pergi ke mana-mana."