Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #20

Bab XX: Aku dan Pertandingan Basket


Pagi itu, udara Minggu terasa lebih dingin dari biasanya. Di depan cermin kamar, aku memandangi pantulan diriku yang sudah mengenakan jersi basket longgar pemberian Ekhsan. Di bawahnya, sepasang sepatu basket usang yang sedikit menjepit ibu jari kakiku terikat erat, ditemani seutas gelang kain biru yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Setelah menyembunyikan jersi itu di balik hoodie hitam tebal, aku melangkah ke ruang depan.

Ibu sedang duduk bersantai di sofa rotan, jemarinya sibuk menggulir layar ponsel pintar memanfaatkan hari liburnya.

"Bu... Ravel berangkat dulu," pamitku pelan.

Gerakan jemari Ibu terhenti. Matanya terangkat, memandangi tudung hoodie dan celana pendek basket yang kupakai dengan kening berkerut. "Ravel... pakaian itu... kamu main basket lagi?"

Aku refleks menggaruk tengkukku yang tidak gatal, membuang muka dari tatapan selidik Ibu. "Enggak, Bu. Ini... cuma pertandingan kecil antar-kelas."

Ibu diam sejenak, sorot matanya melembut, menyembunyikan sisa-sisa luka masa lalu yang urung dibahas. "Kalau begitu, hati-hati. Ingat... jangan sampai kamu terluka, Nak."

Aku hanya mengangguk samar, lalu segera menstarter motor bebekku menuju sekolah. Namun, begitu rodanya melewati gerbang SMA Nusantara, dahiku langsung mengernyit. Area parkiran yang biasanya melenggang sepi di hari Minggu, kini disesaki oleh deretan motor. Beberapa murid yang wajahnya asing bagiku—anak-anak kelas dua dan tiga—terlihat berjalan berbondong-bondong menuju gedung aula.

Aku menepis firasat buruk yang mulai merayap di dada. Ini cuma taruhan konyol seratus ribu rupiah, enggak mungkin seheboh itu, batinku menenangkan diri.

Namun, dugaanku runtuh begitu telingaku menangkap gema sorak-sorai dari dalam aula. Begitu melangkah melewati pintu ganda gedung, mataku langsung disuguhi pemandangan gila. Sisi lapangan dipadati oleh siswi-siswi yang menjerit heboh. Di tengah lapangan, sekelompok cowok bertubuh tegap dengan jersi resmi sekolah sedang melakukan pemanasan. Kak Andra berada di antara mereka, melakukan dribble rendah dengan sangat percaya diri.

Sementara di sudut lain, di dekat bangku cadangan, Ekhsan, Dodit, Yogi, dan Irul duduk dengan bahu merosot dan wajah sekusam cucian belum kering.

"Kau pasti bercanda..." Aku menelan ludah yang mendadak terasa kesat. "Dua orang pemula dan tiga orang yang jarang olahraga harus melawan jajaran inti?"

Dalam beberapa tahun terakhir, prestasi basket SMA Nusantara memang dikabarkan agak menurun. Namun, sekolah ini tidak pernah main-main soal fasilitas dan pembinaan olahraga. Beberapa tahun lalu, tim ini bahkan merajai kompetisi tingkat provinsi sampai beberapa alumninya berhasil menembus universitas jalur prestasi olahraga. Dan sekarang, monster-monster itu sedang melakukan lay-up pemanasan di depan mataku.

"Ngapain lo bengong di situ? Ayo masuk, entar kesambet lo!" Sebuah tarikan kasar di lengan memutus lamunanku. Ekhsan menyeretku paksa menuju area berkumpulnya anak-anak kelas kami.

Saat itulah, mataku tanpa sengaja menangkap sosok Risa di antara kerumunan penonton. Hari ini dia tampak berbeda. Jilbabnya berwarna ungu pastel, senada dengan gaun casual panjang yang membungkus tubuhnya dengan sangat anggun. Begitu netra kami bertemu, Risa langsung mengulas senyum lebar dan melambaikan tangannya dengan semangat.

Apa gadis kepala melon ini bodoh? batinku, buru-buru memalingkan wajah dengan debaran jantung yang mendadak tak karuan. Ngapain dadah-dadah begitu di depan umum, gimana kalau orang-orang salah paham?

Aku kembali fokus pada Ekhsan yang wajahnya sudah sepucat kertas. Mengingat uang seratus ribuku yang berharga terancam hangus, aku langsung melingkarkan lengan ke leher Ekhsan, memitingnya hingga dia mengaduh.

"Lo enggak bilang kalau kita bakal tanding lawan anak-anak macem mereka, Bangsat!" bisikku ketat di telinganya.

"Mereka bukan tim inti kok! Mereka cuman... cuman anak kelas dua yang kebetulan ikut ekskul!" Ekhsan berkilah, mencoba melepaskan pitinganku.

Lihat selengkapnya