Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #21

Bab XXI: Aku dan Titik Balik Pertandingan


Aku memutar leher ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi kertakan pelan, memaksa otot-otot tubuhku yang kaku untuk kembali rileks. Sebelum melangkah kembali ke ubin lapangan, aku membalikkan badan, berdiri tegap memunggungi ring menatap teman-teman setimku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu melirik ke arah tribun penonton. Risa masih di sana. Dan demi Tuhan, aku tidak akan membiarkan bajingan seperti Andra menyentuhnya.

"Teman-teman, please, gue minta perhatian kalian sebentar!" seruku, setengah berteriak membelah kebisingan aula.

Mendengar suaraku yang mendadak tegas, Dodit, Yogi, Irul, dan Ekhsan langsung menoleh. Mereka serentak merapat, membentuk lingkaran kecil di dekat garis batas.

"Dengar, kalau gaya main kita masih kacau kayak babak pertama, kita bakal kalah memalukan," ujarku ketat, menatap mata mereka satu per satu. "Gue punya rencana. Kita ubah strategi."

Setelah diskusi kilat yang memeras otak, peluit babak kedua akhirnya berbunyi. Kak Dio melempar bola ke udara untuk melakukan rebound kedua. Dengan sisa daya ledak yang kupunya, aku melompat tinggi, menepis bola itu ke arah Dodit sebelum kakiku kembali menjejak lantai.

Dodit langsung membawa bola maju, diikuti oleh Irul dan Yogi yang membuka ruang. Tim lawan langsung merapat, mengurung area dalam. Sesuai strategi yang sudah kususun, aku sengaja menahan diri, berdiri diam di luar garis busur three-point tanpa pengawalan ketat.

"San! Sekarang!" pekikku.

Ekhsan yang sedang melakukan dribble lincah di bawah ring mendadak berputar, melakukan blind-pass jauh ke arah luar. Bola melesat akurat ke arahku. Aku menangkapnya dengan ujung jari, menekuk lutut, lalu melompat dengan gerakan sehalus sutra. Di titik tertinggi lompatanku, jemariku mendorong bola dengan follow-through sempurna.

Wush!

Bola amblas ke dalam jaring tanpa menyentuh besi ring sama sekali. Tembakan tiga angka yang bersih.

Seketika, sorak-sorai penonton mendadak senyap. Anak-anak kelas dua yang menjaga kami melongo, tak percaya dengan akurasi mekanis dari cowok yang di babak pertama mereka sebut pecundang. Bahkan Kak Farel yang sedari tadi duduk santai di meja ofisial langsung tegak berdiri, matanya melebar menatapku. Aku menyeringai tipis, merasakan denyut familier yang sudah bertahun-tahun mati di lenganku. Ternyata kemampuanku belum sepenuhnya berkarat.

"Ganti strategi, sekarang saatnya man-to-man defense! Jaga ketat!" teriakku memberi komando.

Tim Kak Andra segera membangun serangan balik dari bawah ring mereka. Namun, kali ini mereka bentrok dengan tembok pertahanan kami yang rapat. Sesuai instruksiku, anak-anak menjaga ketat setiap pemain kelas dua. Aku sendiri menempel Kak Andra, sengaja menyisakan jarak satu langkah untuk memancingnya. Benar saja, salah satu pemain kelas dua yang panik langsung melempar operan lambung pada Kak Andra.

Sebelum bola itu sampai ke tangannya, aku melesat bagai bayangan, memotong jalur bola di udara. Tanpa membuang waktu, aku memacu lari ke ujung lapangan berlawanan dan kembali melepas tembakan three-point kilat. Swish! Masuk lagi.

Strategi counter-attack itu kami ulangi berkali-kali hingga papan skor digital merangkak naik dengan gila. Dalam waktu singkat, kami berhasil membalikkan keadaan menjadi 45 - 70. Kami unggul lima belas angka.

"Bagus! Terusin kayak gini, kita pasti menang!" Ekhsan berseru heboh, menyeka keringat di bibirnya dengan jersi sembari melempar tatapan jemawa ke arah Kak Andra yang napasnya sudah memburu frustrasi.

Namun, kesombongan Ekhsan yang terlalu dini rupanya memicu singa tidur di pinggir lapangan. Kak Farel mendengus, menarik jersi ofisialnya hingga lepas, menyisakan kaus dalam hitam yang membungkus tubuh atletisnya. Dia berjalan memasuki lapangan dengan aura intimidasi yang pekat.

Melihat kapten aktif sekolah turun tangan, moral tim kelas kami mendadak anjlok. Ekhsan yang tak bisa membendung kekesalannya langsung berteriak protes pada Kak Dio.

"Kak Farel! Lo bilang tadi lo enggak bakalan ikut main!"

"Siapa yang bilang begitu? Gue cuma bilang enggak mau ikut campur urusan taruhan kalian," Kak Farel menyahut santai, memutar pergelangan tangannya sembari tersenyum miring. "Tapi karena gamenya mendadak seru, gue pengen keringatan juga. Lagian, katanya lo mau ngebuktiin skill kapten masa depan? Kenapa enggak gue aja yang ngetes lo langsung?"

Aku menepuk jidatku sendiri, mengutuk mulut besar Ekhsan dalam hati. Melawan barisan kelas dua saja sudah menguras sisa fisikku, dan sekarang monster sesungguhnya malah masuk ke lapangan.

Suka tidak suka, pertandingan berlanjut. Tim Kak Andra melempar bola, memulai serangan dari rusuk kiri. Aku mencoba menutup ruang gerak pemain sayap mereka, bersiap memotong operan seperti tadi. Namun, belum sempat aku bergerak, tubuh tegap Kak Farel sudah berdiri kokoh memblokir jalanku.

Lihat selengkapnya