Cascade

Rio Bagusta Andriyanto
Chapter #22

Bab XXII: Aku dan Sebuah Plester


Aku melangkah keluar dari kegaduhan aula dengan lutut yang gemetaran hebat. Di belakangku, anak-anak kelas masih bersorak-sorai, berpesta merayakan kemenangan sembari sibuk membagi-bagi lembaran uang taruhan. Sembari memegangi pinggulku yang mendadak kaku dan nyeri akibat benturan saat dunk tadi, aku menyeret kakiku menuju toilet koridor barat.

Namun, langkahku melambat ketika mataku menangkap sesosok gadis yang duduk sendirian di atas bangku beton depan kelas kosong. Risa. Dia menunduk, meremas untaian kain gaun ungunya dengan napas yang masih tersisa satu-satu. Saat dia mendongak dan menatapku, aku bisa melihat lapisan bening yang berkaca-kaca di sepasang matanya.

Aku tahu, bagi gadis selembut dia, berteriak lantang dan menolak mentah-mentah dua cowok paling populer di depan ratusan pasang mata bukanlah hal yang mudah. Orang-orang religius seperti Risa biasanya hidup dengan standar moral yang tinggi, yang langsung didera rasa bersalah hebat setelah melakukan konfrontasi.

Aku menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan menjatuhkan diriku di sampingnya.

"Tadi itu... beneran keren banget, Kepala Melon," ujarku, melempar pujian setulus yang kubisa.

Risa tersentak, menoleh dengan bibir yang langsung mengerucut sebal.

"Jangan panggil aku pakai sebutan itu lagi, ih! Kamu itu... seharusnya panggil namaku yang benar. Namaku Risa, Ravel. Kamu tahu itu, bukan Kepala Melon!"

Aku tidak bisa menahan diri lagi. Tawa beritme renyah lolos begitu saja dari tenggorokanku, meledak membelah kesunyian koridor. Wajahnya saat merajuk terlihat sangat lucu; kedua pipinya menggelembung bulat, berpadu dengan sepasang alisnya yang menukik turun.

Mendengar tawa bahagiaku yang menggelegar, Risa berdiri dengan sentakan kesal, bersiap melangkah pergi meninggalkanku. Tanpa sadar, tanganku bergerak lebih cepat dari otakku. Aku menjangkau ke depan, mencengkeram pergelangan lengan kainnya secara refleks.

Gerakan kami serentak terkunci. Untuk beberapa detik yang mendebarkan, mata kami bertukar pandang dalam jarak dekat, sebelum akhirnya aku sadar dan buru-buru menyentak tanganku kembali ke saku.

"Maaf... gue... enggak sengaja," gumamku, mendadak salah tingkah.

"Iya... enggak apa-apa," bisik Risa lirih. Pipi putihnya mendadak dihiasi rona merah jambu yang tipis.

Kami serentak membuang muka ke arah berlawanan, mendadak kehilangan kata-kata akibat kecanggungan yang merayap di antara kami. Namun, atmosfer yang mendebarkan itu pecah berkeping-keping saat pintu aula terbuka. Kak Andra keluar dengan langkah tergesa-gesa, mengabaikan keberadaanku dan langsung memotong jarak ke arah Risa.

"Ris... dengerin gue dulu. Gue... gue beneran—"

"Maafkan aku, Kak Andra," potong Risa cepat. Suaranya terdengar serak, dipenuhi rasa tidak enak yang teramat sangat. "Tadi di dalam... aku bener-bener kasar dan keterlaluan sama Kakak."

Kak Andra tertegun sejenak, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan memaksakan sebuah senyum maskulin di wajahnya.

"Enggak apa-apa, Ris. Gue ngerti. Tapi... meskipun lo nolak gue, kita masih tetep bisa berteman, kan?" kata-katanya teduh khas orang yang pandai bersosialisasi.

Risa mendongak, binar polosnya kembali. "

Kalau hanya sebatas berteman... aku rasa enggak apa-apa, Kak."

Aku yang sejak tadi menyimak langsung berdiri, menyunggingkan seringai sinis di sudut bibir. Aku mencemooh diriku sendiri di dalam hati. Apa yang baru saja lo harapkan, Ravel? Mana mungkin gadis naif seperti dia bisa berubah tegas dalam sekejap. Di mataku yang sinis, konsep "berteman setelah menolak" tidak lebih dari sekadar kemunafikan berlapis, cara halus bagi orang-orang populer untuk tetap menjaga para pengagum rahasia mereka tetap berada di dalam jangkauan ego mereka.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku melangkah lebar meninggalkan mereka berdua, berjalan lurus menuju toilet untuk membersihkan luka sikutku yang mulai berdenyut perih.

Begitu selesai membasuh sikutku yang berdarah di wastafel, aku mendorong pintu toilet untuk keluar. Namun, langkahku langsung tertahan. Kak Andra sudah berdiri di sana, bersandar di dinding koridor sepi dengan kedua tangan yang bersedekap di dada.

Aku menatapnya datar sejenak, berniat melewatinya begitu saja tanpa mencari perkara. Tapi, tepat saat tubuhku sejajar dengannya, tangan kekar Kak Andra bergerak kasar, mencengkeram bahu jersiku dan menyentaknya ke belakang.

Brak!

Punggungku menghantam ubin koridor dengan keras. Aku mendongak, menemukan ekspresi penuh kebencian dan rahang yang mengencang di wajah kapten basket itu.

"Apa lo ngerasa sombong sekarang? Merasa udah jadi MVP di pertandingan tadi, hah?!" bentak Kak Andra, suaranya tertahan di tenggorokan.

Aku berusaha meredam emosiku, perlahan bangkit berdiri sembari mengibaskan debu di celanaku.

 "Hentikan ini, Ndra. Gue enggak ada sangkut pautnya sama taruhan atau permainan yang lo mainin sama Ekhsan."

Lihat selengkapnya