Hari Senin selalu punya formula rahasia untuk terasa menyebalkan, terlebih setelah akhir pekan yang menguras seluruh engsel tubuh karena turnamen basket kemarin. Namun, riuh rendah yang menggema di lapangan sekolah tak lagi sanggup memicu degup abnormal di jantungku. Ini adalah kali kelima aku berdiri tegak di balik tiang mikrofon perak sebagai pemimpin upacara. Rasa gugup yang dulu sempat merajai saat upacara Kemerdekaan kini telah menguap, digantikan oleh ritme gerakan tubuh yang mulai berjalan otomatis.
Pukul enam pagi, aku sudah menyusuri koridor beton yang masih sunyi menuju ruang OSIS. Tanganku baru saja terangkat untuk membenarkan letak kopiah hitam di kepala ketika sebuah cubitan keras tiba-tiba mendarat telak di pipiku.
Aku berbalik dengan dahi berkerut gusar. Kak Dwi berdiri di sana, menyunggingkan senyum jahil yang teramat sangat kukenal.
"Kak Dwi, bisa tidak sehari saja jangan mengganggu? Gue harus bersiap," keluhku sembari menepis pelan jemarinya.
"Habisnya, Squidward kecil gue sekarang udah jadi bintang sekolah," Kak Dwi terkekeh hambar, menyandarkan bahunya ke kosen pintu kayu. "Sedih banget kakak kelas lo yang cantik ini melewatkan momen dunk hebat itu secara langsung. Siapa sangka adik kelas yang biasa gue suruh-suruh ini ternyata jagoan lapangan?"
"Itu cuma kebetulan. Kakak tahu sendiri postur gue lumayan diuntungkan, dan ring basket sekolah kita juga agak rendah," kilahku, pura-pura sibuk merapikan lipatan kerah baju putihku.
"Oh, apa ini? jadi ini cara seorang sepuh merendah?" Kak Dwi mendengus remeh. Dia merogoh saku roknya, lalu menyodorkan layar ponsel pintarnya tepat di depan hidungku. Sebuah video di aplikasi Instagram sedang berputar secara looping—menampilkan siluet tubuhku yang melayang tinggi sebelum menghantam ring dengan keras.
Aku terperangah. Jantungku berdesir kecil. Aku langsung merebut ponsel itu, memeriksa nama akun yang mengunggahnya: Nurwanti.
"Nurwanti? Siapa lagi ini? Kurang kerjaan banget merekam bagian itu. Padahal banyak operan bagus yang harusnya lebih layak masuk video," gerutuku, meski ada setitik rasa bangga yang aneh merayap di dada.
"Menurut aku... waktu kamu melakukan dunk itu, memang sangat keren, Vel."
Suara lembut dengan intonasi rendah itu membuatku menoleh cepat. Risa sudah berdiri tak jauh dari tempat kami, menyunggingkan senyum tipis yang tulus. Jilbab putih bersihnya membingkai wajah yang entah mengapa pagi ini terlihat jauh lebih cerah dari biasanya, lengkap dengan lencana dan atribut upacara yang sudah terpasang rapi di dadanya.
Untuk beberapa detik, lidahku mendadak kelu. Pikiranku justru melompat liar pada kehangatan plester kartun yang sore kemarin dia berikan di parkiran, juga sensasi samar saat jemariku tak sengaja menahan lengannya di bangku koridor.
"Jangan bercanda," aku segera membuang muka ke arah jendela, berusaha mati-matian menyembunyikan semburat panas yang mulai menjalar di kedua pipiku. "Gerakan gue udah kayak ayam mati begitu. Apanya yang keren?"
Keheningan yang canggung mendadak menyergap di antara kami bertiga. Beruntung—atau sialnya—Ekhsan tiba-tiba muncul dari balik pilar koridor dan menarik ujung belakang jilbab Risa dengan usil.
"Ekhsan! Sini kamu!" pekik Risa. Wajah manisnya berubah merah padam saat dia langsung berbalik, mengejar Ekhsan yang sudah berlari terpingkal-pingkal keluar dari ruang OSIS menuju tengah lapangan.
Aku mengembuskan napas lega, merasa terselamatkan dari situasi tadi. Namun, saat kembali berbalik, aku mendapati Kak Dwi sedang menyipitkan matanya dengan senyuman yang luar biasa mencurigakan.
"Apa? Ngapain ngeliatin gue kek gitu?" tanyaku, mulai merasa tidak nyaman.
"Lo itu... jangan-jangan lo suka ya, sama Risa?"
Tuduhan frontal itu menghantam dadaku laksana godam besi. Aku menelan ludah yang terasa kesat, sekuat tenaga mengunci seluruh otot wajahku agar tetap datar tanpa ekspresi.
"Sudah, daripada membahas hal yang enggak jelas, lebih baik kita bersiap ke lapangan." Tanpa menunggu jawaban dari Kak Dwi, aku melangkah lebar-lebar meninggalkan ruangan dengan dada yang bergemuruh.
Usai upacara yang sukses menguras keringat, aku kembali ke ruang OSIS untuk menanggalkan seluruh atribut pemimpin upacara. Di tengah selasar menuju toilet, langkahku mendadak terhenti saat melihat Dodit sedang menarik pergelangan tangan Putri menuju sebuah kelas kosong yang berada di ujung koridor.
Didorong oleh rasa penasaran yang aneh, aku melangkah tanpa suara, menempelkan telinga ke celah pintu kayu yang sedikit terbuka.
"Put, sebenarnya... gue udah lama suka sama lo. Lo mau kan, jadi pacar gue?" Suara Dodit terdengar agak serak, kehilangan seluruh kepercayaan diri yang biasanya selalu dia pamerkan di tongkrongan motor.
Aku menahanan napas di balik balik dinding. Dodit bener-bener nekat menembak perempuan di jam sekritis ini. Hubunganku dengan Putri bisa dibilang rumit; kami lebih sering seperti musuh bebuyutan yang kerap bertukar kalimat sarkasme di kelas. Aku penasaran, apakah tipe cowok manly, supel, dan jago berkelahi seperti Dodit bisa melunakkan hati si "Iblis Wanita" itu?
Namun, kalimat yang keluar dari mulut Putri berikutnya justru membuat rahangku hampir jatuh ke lantai.
"Lo enggak punya cermin di rumah? Sorry ya, lo bukan tipe gue. Minimal kalau mau jadi pacar gue, lo mesti punya motor sport atau mobil... mungkin kek Ekhsan, baru gue pertimbangin lagi. Lagian apa untungnya pacaran sama cowok miskin."
Suara hentakan langkah kaki yang berputar menuju arah pintu membuatku panik. Aku buru-buru berbalik untuk kabur, namun sial, ujung sepatu pantofelku saling tersandung satu sama lain.
Gubrak!