Dengung di kepalaku menyisakan rasa ringan yang aneh saat kelopak mataku terbuka. Sisa-sisa semalam menghantam tanpa ampun. Bau alkohol yang basi dan asap yang samar-samar melekat di baju seperti menertawakan prinsip yang mati-mati kubangun: tidak menyentuh rokok dan alkohol.
Ternyata, pepatah lama itu tidak bual belaka. Jika kau berteman dengan tukang parfum, kau akan kecipratan wanginya. Dan semalam, aku sengaja menceburkan diri ke dalam kubangan yang salah. Namun, dunia tidak berhenti berputar hanya karena aku menyesal.
Aku menyeret langkah kaki yang berat menuju sekolah. Tepat di gerbang, deru motor Ekhsan memotong jalanku. Di jok belakangnya, seorang gadis mencengkeram jaketnya erat. Aku hanya mampu membuang muka, menggeleng samar, lalu mempercepat langkah menuju kelas.
Suasana kelas masih lengang. Demi mengusir riuh di kepala, aku merosot di bangku dan menyalakan ponsel, menenggelamkan diri dalam permainan gim. Sampai sebuah bayangan memotong cahaya lampu dari arah pintu.
Risa.
Gadis yang memicu malam liarku semalam—tidak, aku hanya mencari kambing hitam. Semua kekacauan ini adalah keputusanku sendiri. Aku mengunci pandangan pada layar ponsel, jemariku bergerak lebih agresif, mengabaikan kehadirannya.Namun, aroma bedak bayi yang familier mendadak mendekat. Kursi di sebelahku berderit. Risa meletakkan sebuah laptop dengan hentakan pelan.
"Tempat itu milik Irul. Pindah," kataku, ketus tanpa menoleh.
"Kamu itu selalu seperti itu. Padahal aku cuma mau minta saran buat acara Ramadan. Lagian, cuma kamu yang keras kepala keluar dari grup chat OSIS," balas Risa, nadanya meninggi. Laptopnya terbuka, menampilkan lembar kerja digital.
"Oh, ya? Ada yang peduli?" ujarku sarkastis.
Risa mengembuskan napas berat, matanya menyipit gusar. "Kamu selalu punya seribu alasan setiap kali diundang masuk grup. Berhenti bikin Kak Aliyah pusing, Vel."
"Aku cuma menolak jadi budak korporat sekolah. Rumah itu tempat belajar dan main gim dengan damai, bukan ekstensi ruang kerja."
Risa memutar bola matanya, ekspresi "terserah" tercetak jelas di wajahnya. Ia menggeser laptopnya tepat di hadapanku. Mataku sekilas membaca baris pertama proposal digital itu: Pondok Ramadan: Dua Hari Dua Malam. Pelipisku langsung berdenyut nyeri.
"Kamu sudah gila? Menginap dua malam untuk acara seremonial begini? Coret menginapnya. Jadikan dua hari kegiatan sekolah biasa saja," protesku.
"Tapi Vel, esensinya ada di sana. Kita bisa sahur dan buka puasa bareng. Kalau cuma pulang-pergi, apa bedanya dengan hari sekolah biasa?"
Argumen kami terputus oleh suara tawa di ambang pintu. Ekhsan masuk sambil menggandeng jemari Elfi. Sebelum duduk, Ekhsan sempat melirik Risa, menjulurkan lidah, dan menarik kantung matanya ke bawah—sebuah ejekan terang-terangan. Risa sentak memalingkan wajah, rahangnya mengatup rapat.
"Dasar kekanak-kanakan," umpat Risa lirih.
Aku meliriknya dari sudut mata. "Kenapa? Cemburu melihat dia punya gandengan baru?"
"Enggak sudi! Aku malah bersyukur dia stop menggangguku," sergah Risa cepat, pipinya agak merona karena kesal. "Sudah, jangan melantur. Bahas lagi proposal ini!"
Selama beberapa menit berikutnya, ruangan itu hanya diisi perdebatan kecil kami tentang poin-poin proposal, sampai sebuah bayangan tinggi mengejutkan kami.
"Wah, wah. Lagi ngapain nih? Jangan-jangan kalian sedang bermes—"
Bukk.
Aku menyikut perut Irul pelan sebelum dia menyelesaikan kalimat konyolnya. "Jangan mulai. Kami sedang mematangkan konsep Pondok Ramadan. Lagipula, ini kan tugasmu, Sang Juara Tartil tingkat kabupaten."
"Sialan, berhenti membawa-bawa gelar itu!" Irul menggerutu, namun tetap menarik kursi. Bukannya duduk di tempatnya, ia justru menyenggol kursi Risa agar bergeser semakin mepet ke arahku.