Tiga hari skorsing berakhir, tapi atmosfer koridor sekolah terasa lebih menyesakkan. Setiap langkahku seolah menjadi sorotan. Obrolan yang semula riuh mendadak surut saat bahuku berpapasan dengan kerumunan siswa di depan loker. Mereka tidak terang-terangan meludah, tapi tatapan mereka—menghunjam, penuh selidik—sudah cukup untuk membuat kulitku meremang.
“Itu dia orangnya...” “Dengar-dengar Kak Andra sampai dapat beberapa jahitan di pelipis. Gila, kan?”
Aku mengeratkan cengkeraman pada tali ransel, menatap lurus ke depan. Mati rasa. Itulah pertahanan terbaikku.
Begitu sampai di kelas, Irul langsung memutar kursi, memberiku celah untuk masuk. Selama tiga hari aku terisolasi, ponselku penuh dengan screenshot catatan pelajaran yang ia kirimkan.
"Gimana kabar lo, Vel?" Irul melirik sekeliling dengan waspada. "Satu sekolah lagi heboh. Gue nggak nyangka lo bisa sebrutal itu. Mulai sekarang, gue harus mikir dua kali kalau mau nyari gara-gara sama lo."
Aku mendengus, lalu sengaja merangkul pundaknya dengan erat sampai ia terhuyung. "Apaan sih? Kita ini bestie. Lo mau ngacak-ngacak hidup gue sepuasnya juga bakal gue jabanin."
Irul menyikut dadaku, berpura-pura risih. Tawa kecil yang lolos dari bibirku terasa seperti oksigen di tengah ruangan yang pengap. Namun, tawa itu lenyap seketika saat pandanganku tidak sengaja menangkap Risa di bangkunya.
Ia melambai kecil, senyumnya canggung dan kaku.
Jantungku berdegup tidak karuan. Apakah ini efek samping dari rindu yang kubungkus rapat selama tiga hari? Lidahku kelu. Alih-alih membalas, aku memilih memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk membongkar isi tas.
Belum sempat detak jantungku stabil, tiga bayangan besar menutupi cahaya matahari di mejaku. Ekhsan, Dodit, dan Yogi. Ekhsan langsung menduduki ujung meja kayu milikku tanpa permisi.
"Gila, Vel! Sakti bener!" Ekhsan menggeleng kagum. "Lo bikin Andra bonyok. Keren parah. Anak kelas satu sukses bikin senior songong itu babak belur."
"Bener kata gue!" Dodit menepuk pundakku keras. "Nggak salah lo masuk circle kita. Darah petarung!"
Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedang memegang pulpen. "Kalian semua waras, nggak? Berantem sampai orang masuk rumah sakit itu bukan prestasi. Gue kena skors, catatan akademik gue cacat. Bukannya dinasehati, malah dikompor-komporin. Otak lo pada taruh di mana?"
Mereka hanya tertawa remeh. Aku tahu, frekuensi kami tidak akan pernah sama. Namun, anehnya, ada bagian dari diriku yang mulai menerima kehadiran mereka—bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai bagian dari kekacauan yang tak terelakkan dalam hidupku.
Jam pelajaran berlalu seperti deretan angka buram. Saat bel istirahat berdentang, aku langsung melesat menuju ruang guru. Pak Sammy sedang bersandar santai di kursinya, dengan gaya khas: menggaruk selangkangan tanpa beban.
"Permisi, Pak..." Aku mengetuk sekat tripleks.
"Ah, Ravel! Masuk, duduk!" Pak Sammy menyambut dengan lambaian antusias.