Semua orang mengira trauma selalu berbentuk mimpi buruk yang datang saat terpejam. Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana. Terkadang, trauma adalah kenangan yang pernah terasa begitu kuat dan hangat, namun kini membusuk bersama penyesalan.
Di sinilah aku sekarang. Berdiri seperti orang bodoh di ambang pintu, masih ragu untuk menginjakkan kaki ke dalam aula. Namun, egoku kalah. Kakiku tetap melangkah masuk, memaksaku menyaksikan kembali kepingan masa lalu yang dahulu bersumpah ingin kutinggalkan.
Suara derit kesat sepatu kets dan dentum berisik pantulan bola basket langsung menyerbu indra pendengaranku. Di tengah aula yang luas, beberapa anak tampak sibuk melakukan pemanasan, sementara yang lain mengobrol di pinggir lapangan. Pandanganku mendadak terkunci pada sudut lapangan seberang—area latihan tim basket wanita.
"Putri..." desis batin resmi menyuarakan alarm bahaya.
Aku tahu gadis itu sudah bergabung dengan tim basket sejak zaman SMP. Tapi melihatnya kembali berdiri di lapangan yang sama denganku mendadak memanggil riak mimpi buruk yang enggan kuingat. Tepat saat aku larut dalam kecamuk pikiran, Putri menoleh. Tatapan kami bertautan di udara.
Ia mengulas senyum yang teramat manis. Namun, aku tahu persis, di balik lengkungan bibir itu, ada racun yang berbahaya. Merasa muak, aku segera memalingkan wajah, memilih berjalan cepat menuju barisan anak laki-laki dan duduk di sana demi mengalihkan fokus.
Tak lama kemudian, seorang pria jangkung berkepala botak melangkah ke tengah lapangan dengan peluit menjuntai di dada.
"Baiklah! Semuanya berkumpul!"
Satu seruan tegas darinya sukses membuat seluruh anak berbaris rapi dalam hitungan detik. Pria itu menyapu pandangan ke arah kami, hingga matanya berhenti tepat di posisiku.
"Sepertinya ada wajah baru di sini. Pak Sammy sudah menceritakannya padaku," ujarnya, suaranya berat berwibawa. "Perkenalkan, nama gue David. Pelatih yang bakal memimpin latihan kalian. Baiklah, untuk menu pembuka hari ini, kelilingi lapangan sepuluh kali. Mulai!"
Semua orang langsung berhamburan mengambil jalur lari. Aku buru-buru menyusul di barisan belakang. Berlari mengitari lapangan adalah makanan sehariku dulu, tapi sial, baru memasuki putaran ketiga, pelipisku mendadak berdenyut nyeri dan paru-paruku terasa seperti terbakar kehabisan oksigen. Fisikku benar-benar hancur setelah lama absen. Aku terpaksa memisahkan diri dari barisan, berhenti di pinggir lapangan sambil bertumpu kaku pada tembok aula yang dingin.
"Baru segitu aja lo udah mau mati, Vel?"
Aku menegadah dengan napas memburu yang payah. Putri sudah berdiri di depanku, menyilangkan dada dengan dahi berkerut meremehkan.
"Berisik," kataku, suaraku parau. "Mending lo balik latihan sana. Enggak usah ganggu gue."
"Gue jelas bakal balik latihan, sih. Gue cuma syok aja melihat ada 'manusia purba' yang langsung jantungan cuma karena lari beberapa putaran," Putri terkekeh, nadanya mendayu mengejek. "Gue pikir lo masih sekuat dulu. Huhuhu-hahaha..." Ia bahkan tidak segan menirukan suara monyet dengan gestur tangannya yang menyebalkan.
"Bagus sekali. Kalau aku harus mendengar ocehan bodohmu ini selama beberapa bulan ke depan, aku rasa ajalku bakal datang lebih cepat."
Aku memutus percakapan, memaksa kakiku yang gemetar untuk kembali berlari. Sialan. Aku benar-benar ingin keluar dari tempat ini detik ini juga jika bukan karena ancaman pencabutan beasiswa. Berada di satu ruangan dengan orang-orang dari masa lalu selalu sukses membuat dadaku sesak.
Begitu menyelesaikan putaran kesepuluh, aku menjadi orang terakhir yang tumbang. Keringat deras membanjiri kaus panjangku yang panas, dan aku bisa merasakan wajahku mendidih, pasti sudah merah padam seperti lobster rebus.
"Ayo, ayo, bangun kalian pemalas! Jangan manja!" seru Kak David memecah kesunyian aula. "Sekarang ambil bola, lakukan dribbling konstan selama lima menit per orang!"
Satu per satu anak maju bergantian melakukan giliran mereka, hingga namaku dipanggil. Aku melangkah maju, menerima bola basket berwarna jingga kusam itu. Tekstur kulitnya yang kasar mendadak membakar telapak tanganku—bola yang sama yang dahulu menghancurkan seluruh hidupku.
Aku menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, lalu mulai memantulkannya ke lantai.
Dug. Dug. Dug.
Gema suara itu memantul di dinding aula, berputar-putar di dalam kepalaku. Tanganku terus menghentak bola, mencoba menjaga ritme. Namun, secara impulsif, bayangan tangis histeris Ibu malam itu mendadak melintas di benakku. Fokusku buyar seketika. Bola di tanganku slip, memantul tidak keruan ke arah samping.
Aku mengejarnya dengan gerakan kikuk yang memalukan. Tepat sebelum aku bisa menggapainya, sepasang sepatu olahraga putih menghentikan laju bola tersebut. Itu Putri. Ia menahan bola itu di bawah pijakan kakinya, menatapku lurus-lurus.