Aku sekali lagi mematut diri di depan cermin kamar setelah merapikan letak peci hitam di kepala. Hari ini adalah pembukaan Pondok Ramadan. Di tubuhku melekat sebuah baju koko baru berwarna abu-abu pemberian Ibu. Dia membelikannya karena sadar satu-satunya baju koko yang kupunya sudah kesempitan hingga sesak jika dipakai bernapas.
Sejujurnya, sewaktu SMP, aku selalu punya seribu cara untuk membolos dari acara keagamaan seperti ini. Namun, entah mengapa kali ini aku tidak bisa melakukannya. Setelah menatap pantulan asingku di cermin—dan hampir muntah karena merasa diriku terlihat sangat aneh—aku segera menghidupkan motor, menjemput Irul, lalu membelah jalan menuju sekolah.
Di pintu gerbang, Pak Effendi sudah bersiap di balik meja panjang. Beliau meminta setiap siswa membubuhkan tanda tangan di selembar kertas absensi sebagai bukti kehadiran. Begitu giliranku selesai, aku dan Irul segera melangkah menuju aula sesuai instruksi pengeras suara.
Begitu melewati pintu masuk, mataku secara otomatis menyisir seisi ruangan, hingga gerakanku terkunci pada satu sosok. Risa.
Gadis itu tampil sangat sederhana hari ini. Jilbab segi empat berwarna putih bersih membingkai wajahnya, dipadukan dengan gamis terusan berwarna merah muda yang pas di tubuhnya. Ini kali pertama aku melihatnya melepas seragam sekolah, dan harus kuakui... dia terlihat sangat indah.
Saat aku masih terpaku mengagumi pemandangan itu, Irul mendadak menarik lenganku kasar, memecah kerumunan anak-anak, lalu menuntunku duduk di dekat barisan Risa, Putri, dan Lia. Tanpa permisi, Irul mendorongku hingga aku terduduk tepat di sebelah Risa, sebelum ia menyapa semuanya dengan cengiran tanpa beban.
"Pagi, Semua! Gimana puasanya? Masih aman, kan?" tanya Irul basa-basi.
"Alhamdulillah, Rul, masih lancar," jawab Risa lembut. Sepasang mata jernihnya kemudian beralih menatapku. "Gimana Vel, puasamu lancar juga?"
"Bagaimana bisa lancar kalau pagi-pagi begini gue udah harus melihat orang menyebalkan kayak lo," kataku ketus, memalingkan wajah ke arah lain.
Bukannya tersinggung, Risa justru menutup mulutnya dengan telapak tangan, lalu tertawa cekikikan.
"Kamu itu memang lucu sekali, Vel."
Gadis ini... benar-benar ….
"Tentu saja puasa Ravel nggak bakal lancar," sahut Putri tiba-tiba. Senyum manisnya mengembang, namun kilat matanya tampak dingin. "Dia, kan, biasanya baru sahur jam delapan pagi. Kali ini dia dipaksa bertahan sampai Magrib. Jelas menderita."
"Oi, gini-gini gue nggak pernah bolong puasa, ya! Walau sebenarnya gue sendiri nggak tahu apa esensinya. Puasa itu... rasanya benar-benar nggak ada gunanya," ujarku, mendengus remeh.
"Hush! Nggak boleh bicara begitu, Vel," tegur Risa cepat, raut wajahnya berubah serius. "Kamu kesannya kayak nggak ikhlas. Padahal puasa itu bagus banget buat mendetoks racun dan menjaga kesehatan. Banyak peneliti dari Barat yang bilang kalau—"
"Bla... bla... bla..." potongku, melambaikan tangan di udara. "Gue tahu ke mana arah omongan lo. Tapi, gue rasa sains dan agama berjalan dengan cara yang berbeda. Maksud gue, kalau di zaman purba dulu ada orang yang bisa terbang di langit saat teknologi pesawat belum ada, orang-orang pasti langsung menyembahnya tanpa banyak tanya. Padahal, bisa jadi orang itu cuma manusia biasa yang punya teknologi lebih maju dari masanya."
"Ravel, pemikiranmu itu terlalu—"
Belum sempat Risa menyelesaikan khotbahnya, seseorang mendadak menarik ujung kerudungnya dari belakang hingga kepalanya terdongak pelan. Kami berdua menoleh serentak dan mendapati Ekhsan sedang berdiri sambil tersenyum cekikikan.
"Wah, lagi asyik debat filosofis nih tampaknya," cetus Ekhsan tanpa rasa bersalah. "Gue gabung, ya!"
Ekhsan langsung menyelipkan tubuhnya, mendorong bahuku ke samping hingga kini dia duduk tepat di antara aku dan Risa. Detik berikutnya, Ekhan mulai menggoda Risa dan Risa berusaha menolak seperti biasa. Aku memilih mundur, mengalihkan fokus pada panggung utama aula di mana Kepala Sekolah baru saja naik ke podium untuk membacakan susunan acara.
"Baiklah, begitulah runtutan agenda kita untuk hari ini. Bapak berharap kalian semua bisa berpartisipasi dengan aktif," suara Kepala Sekolah menggema melalui pengeras suara. "Untuk membuka kegiatan, kita akan mengadakan kultum atau ceramah singkat berpasangan selama lima menit. Kalian akan dipanggil per kelas secara acak untuk maju ke depan. Temanya bebas, tetapi harus selaras dengan pasangan masing-masing. Bapak beri waktu tiga puluh menit dari sekarang untuk menyusun teks ceramah!"
Mendengar pengumuman itu, suasana kelas kami mendadak ricuh. Semua anak mulai sibuk kasak-kusuk mencari tandem. Aku dan Risa saling melempar pandang. Dari gurat wajahnya, gadis itu tampak ingin mengatakan sesuatu padaku. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, tangan Ekhsan kembali menarik ujung jilbab Risa.
"Sa, lo jadi pasangan ceramah gue, ya!" tembak Ekhsan langsung.
Risa menatapku dengan sepasang mata yang menyiratkan permohonan tolong yang sangat jelas. Hei, jangan gunakan tatapan memelas seperti itu untuk memaksaku, gadis manis sialan! Mengutuk dalam hati, aku segera memalingkan wajah, berpura-pura sibuk mencari alternatif lain.