Cascade

Ribato
Chapter #28

Bab XXVIII: Aku dan Pondok Ramadan (Bagian II)

Ekhsan dan Risa. Di mata orang-orang, mereka adalah kombinasi visual yang selalu dianggap serasi. Keduanya sama-sama berwajah rupawan, meski memiliki daya pikat yang bertolak belakang. Para gadis menggilai Ekhsan karena senyum manisnya, ditambah fitur dagu terbelah yang membuatnya terkesan karismatik. Ditambah lagi, dia adalah tipikal cowok populer, supel, dan kaya raya yang selalu asyik diajak mengobrol.

Di sisi lain, Risa adalah definisi kecantikan yang anggun. Wajahnya bulat dengan dagu sedikit lancip yang proporsional. Dia juga supel, namun ada benteng misterius yang mengelilingi dirinya. Risa selalu menolak bersentuhan fisik dengan pria mana pun dan sebisa mungkin menjaga jarak aman. Batasan tegas itulah yang justru membuat popularitasnya di kalangan cowok meroket. Bagi sebagian besar dari mereka, Risa dianggap sebagai piala indah yang sangat layak untuk dimenangkan.

Kedekatan mereka sudah terjalin sejak MPLS, bahkan berlanjut di kelas. Sebelum peta tempat duduk dirombak, Ekhsan adalah satu-satunya cowok yang berani melangkah maju dan menduduki bangku di samping Risa saat anak-anak lain hanya berani mengaguminya dari jauh.

Kini, mereka kembali disandingkan di atas panggung, otomatis memicu kasak-kusuk satu sekolah. Siapa yang bisa lupa dengan drama buket bunga dari Ekhsan dan penolakan dingin Risa saat LDKS waktu itu? Memori itu kembali mencuat, membuat atmosfer aula mendadak bising begitu keduanya berdiri di balik meja podium.

Ekhsan membuka kultum dengan cukup baik, walau artikulasi suaranya terdengar kurang lantang. Begitu memasuki pertengahan materi, giliran Risa yang mengambil alih mikrofon. Di awal, kalimat-kalimatnya mengalir lancar dan terstruktur. Namun, lambat laun, ada yang salah dengan gesturnya.

Fokus mata Risa bergerak gelisah, menatap mikrofon dan lembaran kertas di tangannya bergantian. Napasnya tampak memburu tidak nyaman. Dan secara mengejutkan, cengkeraman jarinya melonggar; kertas draf di tangannya jatuh mencium lantai panggung. Risa mematung, tubuhnya mendadak kaku di depan mikrofon.

Melihat pemandangan itu, dadaku berdesir aneh. Aku refleks bertumpu pada lutut, hampir menegakkan tubuh untuk maju.

"Lo mau ngapain?" Putri tiba-tiba mencengkeram ujung baju kokoku, menarikku kembali ke bawah.

"Berisik. Gue nggak mau ngapa-ngapain," sahutku defensif, merapikan posisi duduk. "Pantat gue cuma pegal, makanya mau berdiri sebentar."

Putri mendengus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis.

"Lucu sekali, ya. Tiap kali Risa lagi kesulitan, pantat lo mendadak ikutan sakit."

Aku diam-diam mengembuskan napas lega. Setidaknya, intervensi Putri mencegahku melakukan tindakan impulsif yang bodoh di depan umum. Mataku kembali terkunci pada panggung. Di atas sana, Ekhsan merunduk, memungut kertas catatan Risa, lalu menyerahkannya kembali dengan senyum menenangkan. Memaksakan sisa keberaniannya di tengah riuh siulan mengejek dari barisan murid, Risa akhirnya berhasil menyelesaikan pidatonya hingga akhir.

Begitu turun dari panggung, Risa langsung membaur dengan siswi lain. Dari jarak jauh, aku bisa melihatnya mengulas sebuah senyuman—senyuman topeng yang dipaksakan untuk menutupi rasa malunya, dan entah mengapa, melihat itu membuat dadaku ikut terasa sesak.

"Kenapa lo nggak samperin ke sana terus kasih semangat?" Putri berbisik lagi, melempar senyum manisnya yang mematikan. "Siapa tahu lo lagi beruntung dan bisa curi kesempatan bikin dia jatuh cinta."

"Gue nggak perlu melakukan hal se-tidak penting itu," balasku datar tanpa menoleh. "Risa itu kuat, bahkan jauh lebih kuat daripada lo yang hobinya cuma merundung orang di pojokan. Mengkhawatirkannya adalah tindakan yang sia-sia."

Rangkaian acara terus bergulir hingga kumandang azan Zhuhur menggema. Seluruh murid langsung berbondong-bondong menuju masjid sekolah. Karena kapasitas bangunan yang tidak terlalu besar, para siswa terpaksa bergantian mengambil saf. Setelah membasuh wajah dan anggota wudu dengan agak tergesa-gesa, aku melangkah keluar dari koridor basah, tepat saat Risa muncul dari ruang wudu wanita yang berlawanan.

Langkah kami sempat tertahan di titik yang sama. Kami bertukar pandang sejenak di bawah sinar matahari siang yang terik. Risa tampak ragu, berniat memutar tubuh untuk langsung masuk ke area salat wanita.

"Hei," panggilku, suaraku memutus jarak di antara kami.

Risa menghentikan langkah, berbalik menatapku. Beberapa pasang mata anak lain yang lewat mulai melirik ke arah kami, tapi aku sudah kepalang basah untuk peduli.

"Kenapa, Vel? Kamu memanggilku?" tanyanya, suaranya terdengar lembut namun parau.

"Itu... lo tahu, kan? Public speaking itu cuma soal pembiasaan aja. Soal jam terbang. Jadi... nggak usah terlalu lo pikirin kejadian tadi," ujarku cepat.

Lihat selengkapnya