Kak Hisam membuka malam dengan kisah absurd tentang Gunung Kawi yang membuat satu aula bergelak tawa. Setelah itu Kak Hafiz mengambil alih dengan cerita-cerita horor. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjuk pukul tiga pagi ketika Pak Effendi datang membangunkan panitia untuk membagikan sahur. Beliau memerintahkan seluruh panitia OSIS untuk bersiap membagikan konsumsi sahur. Dengan kesadaran yang hanya tersisa tiga puluh persen dan tubuh lemas, aku melangkah berdampingan dengan Ekhsan menuju ruang Kepala Sekolah yang dijadikan posko logistik.
Di sana, kesibukan sudah memuncak. Ratusan kantung kresek besar berisi nasi kotak berjejer di lantai, siap didistribusikan untuk lima ratus siswa. Aku merunduk, berniat menyambar satu kantung kresek besar, ketika jemariku tidak sengaja bersentuhan dengan kulit tangan seseorang.
Kulit itu terasa halus dan dingin. Sentuhan itu terputus secepat kilat. Aku mendongak dan mendapati Risa sudah menarik tangannya kembali dengan wajah sedikit terkejut.
"Bagus sekali. Memangnya gue ini kuman sampai lo kudu sekaget itu?" sindirku sambil mengangkat kantung logistik.
Risa memegangi punggung tangannya, tampak serba salah.
"Maaf, Vel. Tapi dalam keyakinanku, menyentuh lawan jenis yang bukan mahram itu dilarang. Ada hadis yang bilang, lebih baik kepala kita ditusuk jarum besi daripada menyentuh wanita yang bukan haknya."
Aku mengembuskan napas panjang, memutar bola mata.
"Luar biasa. Ini bahkan belum subuh dan gue udah disuguhi kultum gratis."
Tanpa membalas lagi, aku langsung membawa dua kantung besar berisi nasi kotak dan melangkah keluar. Lampu-lampu di sepanjang koridor kelas sudah menyala terang. Aku masuk ke salah satu kelas di lantai satu yang ternyata merupakan ruangan kelas Kak Andra. Setelah satu bulan berlalu sejak insiden berdarah itu, wajah senior itu masih tampak diplester di beberapa bagian.
Ada secuil rasa bersalah yang menyelusup di dadaku saat melihat kondisinya. Dibantu oleh Risa yang berjalan di sampingku, aku membagikan nasi kotak satu per satu kepada anak-anak kelas dua. Ketika aku meletakkan kotak makanan di meja Kak Andra, tatapan kami sempat beradu selama satu detik, sebelum dia membuang muka dengan ketus.
Ada apa dengannya? Biasanya dia yang paling agresif mencari perhatian di depan Risa. Kenapa sekarang jadi mendadak pendiam seperti pecundang begini?
Kugelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk tentang Kak Andra, lalu melanjutkan pekerjaan ke ruangan lain. Di tengah koridor yang berangin malam, Risa tiba-tiba bersin dua kali. Suaranya kecil dan tertahan. Sialan, bahkan dalam kondisi bersin pun, gadis ini masih saja terlihat menggemaskan.
Melihat tubuhnya yang sedikit menggigil di balik gamis merah mudanya, aku menghentikan langkah. Kutanggalkan hoodie hitam yang kukenakan, lalu melemparkannya begitu saja ke arah kepalanya.
"Kalau kedinginan, pakai aja. Nanti kalau lo sakit, gue yang repot karena kita bagiin nasinya barengan," kataku ketus, berjalan mendahuluinya.
"Tapi, Vel..."
"Udah, nggak usah banyak protes. Pakai aja!" potongku mutlak.
Begitu seluruh kelas selesai terdistribusi, aku dan Risa kembali ke ruang OSIS untuk mengambil hak sahur kami. Di dalam ruangan, Kak Auliyah dan Ekhsan sedang merapikan sisa-sisa nasi kotak panitia. Kami melangkah mendekat, namun perhatian Ekhsan tidak tertuju pada makanan di tangannya. Sepasang matanya langsung terkunci pada sosok Risa, lebih tepatnya pada hoodie hitam kedodoran yang kini melekat di tubuh gadis itu.
"Itu... bukannya hoodie lo, Vel?" tanya Ekhsan, nadanya terdengar tidak bersahabat.
Mendengar ucapan Ekhsan, Kak Auliyah langsung menghentikan aktivitasnya. Pandangannya bergerak bolak-balik menatapku dan Risa dengan senyum penuh selidik.
"Iya, Ravel meminjamkan ini padaku karena tadi di koridor agak berangin," jawab Risa polos tanpa beban, bahkan sempat-sempatnya mengulas senyum manis.
Gadis manis sialan. Apa yang lo katakan? Kenapa lo nggak sekalian bunuh gue saja di tempat dengan kepolosan lo itu?!
"Wah, jadi hubungan kalian sebenarnya sudah sejauh itu, ya?" Kak Auliyah mengangguk-angguk dengan ekspresi menggoda.
Di sebelah Kak Auliyah, Ekhsan menatapku dengan sorot mata yang begitu tajam. Jika matanya bisa mengeluarkan sinar laser, aku bertaruh tubuhku sudah bolong-bolong saat ini. Melihat intensitas kecemburuannya membuat bulu kudukku merinding. Gila, padahal cowok ini sudah punya kekasih, tapi sifat posesifnya terhadap Risa sama sekali tidak berkurang.
"Nggak... nggak usah mikir yang aneh-aneh. Kalian berdua salah paham," sergahku cepat, mencoba meredam suasana. "Tadi Risa bersin-bersin kayak orang mau mati karena kedinginan. Gue terpaksa pinjemin hoodie gue biar dia nggak ngerepotin kalau sakit." Aku menoleh pada Risa, mengulurkan tangan. "Sini, balikin hoodie gue."
Risa dengan patuh melepas hoodie tersebut dan menyerahkannya padaku. Aku cepat-cepat menyambar jatah nasi kotakku, lalu melesat pergi menuju kelas untuk sahur sendirian, menghindari tatapan mengintimidasi dari Ekhsan.
Agenda Pondok Ramadan berlanjut keesokan paginya setelah salat Subuh berjamaah. Setelah beberapa perwakilan murid menyampaikan kesan dan pesan yang membosankan, Kepala Sekolah naik ke podium. Beliau mengumumkan bahwa selama dua hari ini, para guru diam-diam melakukan penilaian. Siswa dengan akumulasi poin tertinggi di akhir acara akan mendapatkan hadiah khusus.
Setelah pengumuman itu, kami diarahkan oleh para alumni yang bertindak sebagai mentor untuk membentuk kelompok. Sistem penilaian didasarkan pada keberhasilan tim menyelesaikan misi di tiap pos yang tersebar di lingkungan sekolah. Kelompokku terbilang cukup kompetitif karena berisi kombinasi Irul, Risa, Putri, Faiza, Ekhsan, dan aku sendiri. Kami berhasil melewati tiga pos pertama dengan nilai sempurna.
Hingga akhirnya, kami tiba di pos keempat: Ujian Hafalan Surat Pendek, yang dijaga oleh Pak Mus, guru agama kami yang terkenal ortodoks dan kaku.
"Di pos ini, tantangannya adalah hafalan ayat suci. Kalian masing-masing harus melantunkan satu surat pendek secara bergantian untuk mendapatkan stempel kelompok. Silakan ambil barisan," instruksi Pak Mus tegas.
Aku sengaja mengambil posisi kelima, tepat di belakang Irul, dengan strategi matang: aku akan membaca surat Al-Ikhlas—satu-satunya surat pendek yang kuhafal di luar kepala.
Misi dimulai. Irul maju pertama dan melantunkan sebuah surat yang cukup panjang dengan fasih. Dasar berengsek, dia pasti cuma ingin pamer di depan Faiza. Setelah Irul, giliran Risa yang maju.